Buku Renungan Santapan Harian
Buku Hidup Dalam Terang
Buku Karier Panggilan atau Pilihan?
Buku Renungan Anak SuperKidz
Buku Rohani Ready To Serve
Buku Rohani Authority to Heal

Pengunjung

  • Site Counter: 293538
  • Unique Visitor: 60374

Back to the Bible

Sola Scriptura dan Back to the Bible adalah slogan Reformasi yang sarat arti dan dahsyat dampak. Sarat arti karena slogan tersebut tidak berjalan sendiri tetapi mendukung slogan-slogan penting lain yang menjadi karakteristik gerakan Reformasi. Slogan penting lain yang terkait atau menjadi akibat dari Sola Scriptura adalah Sola gratia, Sola fide, Solo Christo, Soli Deo Gloria.

Oleh pencerahan dari Roh Kudus, Martin Luther diikuti oleh para tokoh Reformasi lainnya menemukan kebenaran alkitabiah yang tidak hanya membuat mereka secara individu mengalami perubahan hidup radikal, tetapi Gereja pun berubah arah sebagai konsekuensi logis penyebarluasan temuan prinsipil itu. Lain dari tradisi, Scriptura menyatakan bahwa keselamatan berasal dari Allah saja sebagai anugerah (Sola gratia) yang dikerjakan di dalam hidup dan karya penyelamatan Yesus Kristus (Solo Christo) dan diterima hanya dengan iman semata (Sola fide).

Kesetiaan Martin Luther dan para tokoh Reformasi lainnya kepada Alkitab menyebabkan Reformasi menjadi suatu gerakan yang dahsyat dampak. Reformasi berhasil mengoreksi arah perjalanan sejarah Gereja yang waktu itu sudah keluar dari rel kebenaran. Dampak dahsyat Reformasi itu seumpama pusaran daya-daya yang terdiri dari unsur arus berpegang pada kebenaran Allah, arus penghayatan segar tentang keselamatan, arus pemurnian ajaran Gereja dan di inti dan puncaknya arus kedaulatan dan kemuliaan Allah diandalkan dan dijunjung tinggi. Apabila kebenaran Allah dan kedaulatan Allah diutamakan, pastilah pusaran pengaruh-pengaruh dahsyat akan terjadi seperti yang sejarah saksikan.

“Kembali kepada Alkitab” telah menyebabkan terjadinya pembaruan kehidupan perorangan, pembaruan kehidupan Gereja, bahkan transformasi sosial-ekonomi-politik. Bisakah prinsip yang sama kembali menghasilkan dampak dahsyat yang sama dalam wilayah-wilayah kehidupan yang luas? Apakah untuk keberadaan dan permasalahan baik perorangan maupun kelompok yang sudah menjadi sangat kompleks dan kait-mengait ini, kesetiaan kepada Alkitab masih mampu menghasilkan perubahan dahsyat? Agaknya kebanyakan orang akan meragukan hal tersebut. Kata “kembali” atau “balik” itu saja pasti menimbulkan reaksi negatif pada kebanyakan kita kini. Sesuatu yang dilihat sebagai kemunduran, bagaimana mungkin menghasilkan kemajuan? Atau, apabila konotasi dari istilah “kembali” disejajarkan dengan pengertian fondasi atau hal-hal yang dasar, kebanyakan kita tidak lagi berpikir bahwa kehidupan ini harus didasari atas sesuatu di luar kita. Lagi pula analogi fondasi bertolak belakang dengan kenyataan hidup yang sedemikian lentur dan dinamis berubah-ubah. Jadi masihkah slogan Reformasi itu mengandung kemungkinan berdampak dahsyat terus di masa kini?

Sola Scriptura pada hakikatnya menempatkan kekuasaan dan otoritas Allah di tempat tertinggi. Penyebab dari keraguan yang telah disinggung tadi adalah mencurigai otoritas sebagai semacam pengekang atau penjajah, bukan pembebas. Di dasar terdalam kecurigaan itu adalah sikap manusia yang semakin egoistis dan semakin ingin melepaskan diri dari Allah. Sebaliknya, Alkitab ingin meyakinkan kita bahwa otoritas Allah bersifat membebaskan. Kebenaran Allah sebaliknya dari simplistik justru memaparkan kait-mengait rumit segala unsur kehidupan manusia dengan tujuan kekal dari rencana Allah untuk manusia. Dipahami demikian, Alkitab menjadi semacam peta kehidupan yang dengan indah memaparkan berbagai kemungkinan dari positif atau negatif respons manusia terhadap berbagai macam bentuk ujud uluran tangan Allah. Maka, sebaliknya dari menghambat keinginan bertualang manusia, Alkitab justru memberi ruang gerak di dalam mana kepetualangan hidup itu dapat terujud sejati.