Bagaimana survive dalam zaman yang makin sulit dan sumber-sumber makin terbatas? Demikian pergumulan sebagian besar kita, baik sebagai perorangan maupun sebagai lembaga. Hasrat bertahan ini melahirkan berbagai strategi dan usaha. Pilihan kebanyakan orang adalah strategi penyesuaian diri. Dalam zaman edan, tidak ikut edan berarti malang alias akan tersingkir alias tidak survive. Lebih edan dari kebanyakan yang edan, adalah cara untuk survive. Penyesuaian diri dengan kondisi dan trend yang sedang berlaku di sekitar kita, juga banyak dijadikan strategi oleh lembaga Kristen.
Memang ada benarnya bahwa orang yang tahu membaca dan menyesuaikan diri dengan trend zaman, akan mudah beroleh welcome dan support. Dengan berupaya se-user-friendly mungkin, kita tentu akan beroleh banyak sahabat, bukan? Tetapi sadarkah kita bahwa hal tersebut tidak disukai Allah? Trend zaman – seperti misalnya, melunakkan definisi tentang dosa, menggandrungi gaya hidup mudah, santai, cepat, dlsb. – hampir bisa dipastikan merupakan manifestasi dari kecenderungan dosa dalam diri manusia. Gaya hidup materialistis misalnya, adalah wajah lain dari penyembahan berhala. Karena itu, terang dan jelas Alkitab melarang kita menyesuaikan diri dengan dunia ini (Rm 12.2) sebab mengasihi dunia berarti kehilangan kasih Bapa dalam dirinya (1Yoh 2.15). Perhatian orang Kristen dan lembaga Kristen karenanya harus melampaui sekadar perjuangan agar dapat survive. Panggilan kita adalah untuk menjadi agen pembaruan dari Allah untuk zaman kita kini.
Dari pelayanan Yohanes Pembaptis yang dicatat dalam Injil Lukas 3.1-20 kita diingatkan untuk menolak pandangan bahwa menyuarakan hal yang berbeda dari yang orang suka akan membuat kita tidak didengar. Anggapan demikian berakar pada pendapat salah yang menyamakan suara mayoritas seperti yang terlihat dalam trend zaman sebagai kebenaran. Mayoritas adalah fakta, tetapi fakta itu harus dinilai oleh kebenaran Firman Allah. Yohanes Pembaptis tidak datang dengan pesan yang user friendly tetapi yang setia kepada Allah sehingga mampu berbicara ke kebutuhan terdalam orang zamannya. Sesuai tradisi para nabi dalam Perjanjian Lama, perlu dulu “Firman Allah datang kepada Yohanes” (Luk 3.2) sebagai prakondisi untuknya siap mewartakan pesan yang membawa peralihan arah kehidupan berarti bagi para pendengarnya. Ternyata pesan yang ia sampaikan sama sekali tidak populer, tidak ngetrend, tidak mrket oriented. Ia tegas menukik ke kondisi gelap hati dan hidup manusia: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.”
Pesan dari Allah dan pewartaan yang setia kepada Firman kebenaran Allah itulah yang menimbulkan respons begitu banyak orang datang dan bertanya kepada Yohanes. “Apakah yang harus kami perbuat (ay 10)?” Tatkala kebenaran dinyatakan dengan gamblang, terbongkarlah fakta bahwa begitu banyak orang yang tidak tahu untuk apa sebenarnya hidup, dan harus bagaimana mengisi hidup ini agar serasi dengan tujuan pendesainnya menciptakan hidup. Jawab Yohanes kepada tiga golongan penanyanya pun sederhana, lugas, kembali menggaungkan prinsip kebenaran Allah. Mereka diminta mengeluarkan buah pertobatan yang serasi dengan kemurahan Allah yang telah memberi mereka teguran kasih dan kesempatan untuk bertobat. Buah tersebut adalah berperilaku murah hati kepada sesama (ay 11), berintegritas dalam bekerja (ay 13), dan bertanggungjawab mengemban kekuasaan dalam semangat mengabdi demi kepentingan orang banyak (ay 14). Kebenaran Allah bersifat membentuk konsep, mewujud ke dalam praxis, dan mencakup semua golongan manusia dengan segala kebutuhan hakikinya.
Misi tidak selesai hanya dengan penyampaian kebenaran secara lugas dan praktis. Misi yang mampu mengubahkan orang harus mampu membuat orang fokus pada Dia satu-satunya yang mampu memberikan transformasi hidup sejati dan memindahkan orang dari terseret arus zaman lama ke teritori zaman baru yaitu zaman Kerajaan Allah yang sedang mewujud dalam dunia ini. Misi sejati harus dari awal ke akhir setia kepada Firman kebenaran dan kepada Ia yang dari-Nya Firman berasal dan Firman berbicara. Pelaku misi yang ingin layak dipakai Allah untuk membawa berkat transformasi bagi zaman ini harus benar-benar menyadari bahwa dirinya hanya alat yang tidak layak dan tidak mampu dan tidak mengandalkan sumber kodratinya. Ia tidak hanya mengajar orang lain untuk tidak merampas apa yang bukan haknya, ia sendiri pun mempraktikkan itu dengan tidak merampas fokus yang harus orang arahkan kepada Yesus Kristus. Maka meski kesempatan untuk bangga diri dan mengambil peran mesianik terbuka lebar baginya, Yohanes Pembaptis segera menampik dan menegaskan bahwa dirinya hanya “suara” yang bertugas membuka jalan. Dirinya hanya mengantar orang untuk terbuka pada anugerah Allah, untuk meninggalkan dosa dan jalan hidup yang tidak dalam jalan Allah. Maka dibanding sang pemberi anugerah, sang pewujud Kerajaan Allah, sang pengubah dan pemurni hidup, dirinya hanyalah pelayan yang tidak layak.
Yesus Kristuslah yang sanggup membaptiskan orang dengan Roh dan api. Kedatangan Yesus adalah dalam rangka membuat orang yang hidup dalam kegelapan dosa dan cengkeraman berbagai adiksi kejahatan dimungkinkan untuk beroleh karunia Allah yang dahsyat yaitu beroleh Roh Allah. Hidup, ajaran, karya penyelamatan Yesus Kristus memungkinkan orang mengalami Roh membarui, mendiami, mengubahkan, menguduskan, memuliakan sepanjang hidup yang bersangkutan. Yesus Kristus juga satu-satunya yang datang untuk membaptiskan orang dengan api pemurnian yang memisahkan semua yang cemar, najis, jahat di mata Allah keluar dan tidak lagi merusakkan kehidupan para pengikut-Nya.
Memasuki tahun 2007 yang entah akan membaik atau malah memburuk ini – bukan tugas kita untuk terlalu terlibat dalam memprediksi hal tersebut – kita perlu sadar bahwa hasrat kita terdalam bukan sekadar untuk survive. Kita harus memiliki hasrat untuk dapat beyond survival, menjadi agen pembawa berkat, pemancar terang kebenaran Firman Allah, pembawa misi pembaruan. Prakondisi untuk itu, kita sendiri harus didatangi Firman dan diubahkan Firman dari waktu ke waktu. Ini akan membuat kita berpegang pada prinsip tidak kompromi dan tidak mengutamakan penerimaan orang melainkan mengutamakan kesetiaan kita kepada Allah dan Kerajaan-Nya. Pada akhirnya, hanya satu yang perlu bagi kehidupan yang bernilai dalam tangan Allah dan berkontribusi bagi zamannya, yaitu apabila dalam kehidupan dan pelayanan kita, Yesus Kristus sang pembawa zaman baru nyata cemerlang. Kiranya kuasa anugerah Tuhan Yesus menjadikan kita demikian.






