Buku Renungan Santapan Harian
Buku Hidup Dalam Terang
Buku Karier Panggilan atau Pilihan?
Buku Renungan Anak SuperKidz
Buku Rohani Ready To Serve
Buku Rohani Authority to Heal

Pengunjung

  • Site Counter: 293536
  • Unique Visitor: 60373

Buah Kekal

Hubungan sukses dan hidup bermakna menjadi sorotan menarik artikel yang lalu. Meski keduanya bisa tidak perlu bertolakbelakang, ternyata banyak orang yang mengalami kebalikannya. Terutama banyak orang yang sudah sukses dalam ukuran-ukuran seperti karir, kekayaan, dlsb., ternyata malah menyadari bahwa semua itu terasa belum bermakna. Artikel itu mengusulkan bahwa keduanya bisa serasi seolah dua sisi dari mata uang yang sama asal definisi sukses disesuaikan dengan kriteria Alkitab. Apabila kita sukses dalam kriteria Allah sendiri, maka itulah kehidupan yang bermakna.

Nah, saya kini ingin melanjutkan perbincangan tentang sukses dan makna hidup itu dari perspektif ucapan Yesus melalui perumpamaan Pokok Anggur yang Benar. Perumpamaan itu penting, indah dan membentangkan lebih rinci lagi apa dan bagaimana hidup sukses-bermakna tersebut.

Biasanya kita cenderung mengartikan perumpamaan tersebut hanya untuk kehidupan individual, dan di sekitar hal-hal rohani. Dengan kata lain, jika setiap orang Kristen ingin memiliki kehidupan rohani yang berhasil, penuhilah prinsip-prinsip yang Yesus bentangkan di dalam perumpamaan ini. Tetapi apabila kita cermati konteks perumpamaan ini, maksud Tuhan bahkan lebih kepada sukses komunitas para pengikut Kristus dan meliputi keseluruhan segi hidup, tidak hanya kerohanian.

Bahwa perumpamaan ini tidak ditujukan terutama kepada individu dapat kita lihat dari konteks bahwa sejak pasal 13 sampai pasal 17, Yesus sedang meninggalkan pesan-pesan sangat penting bagi para murid-Nya, dan dengan sendirinya bagi Gereja-Nya hasil dari pelayanan para murid-Nya itu. Lebih-lebih di dalam Yohanes 15 ini Tuhan menggunakan simbol Pokok Anggur dan di pasal 17 Ia berdoa agar para murid-Nya pertama dan para pengikut-Nya selanjutnya bersatu dalam Dia. Yang dalam Perjanjian Lama diumpamakan sebagai kebun anggur Allah atau pohon ara Allah adalah umat Israel, umat pilihan-Nya. Tetapi kegagalan mereka untuk setia kepada Yahwe semata, dan karena itu kegagalan mereka untuk menghasilkan buah yang memberkati bangsa-bangsa lain, membuat Allah menghukum mereka (Yes. 5:1-10). Jadi dengan menyebut diri-Nya “Pokok Anggur yang Benar” Yesus mengatakan Ia dan di dalam Dialah terujud Israel sejati yang sungguh menyukakan hati Allah. Jadi selain bicara tentang individu, perumpamaan ini juga berbicara tentang komunitas: gereja, persekutuan, keluarga, dan berbagai bentuk kebersamaan Kristen lainnya.

Entah bagaimana dengan Anda. Saya menduga tidak semua orang Kristen menerima bulat apa yang Yesus tandaskan dalam perumpamaan ini. Setujukah Anda bahwa tidak ada seorang Kriten pun, satu lembaga Kristen dapat berbuat apa pun, jika tidak sungguh tinggal di dalam Dia? Apa benar demikian? Bukankah kita masih dapat melakukan tugas-tugas keseharian kita dengan derajat sukses yang tinggi meski tanpa derajat ketergantungan yang penuh kepada penyertaan Tuhan? Bahkan, bukankah kita bisa terus melakukan kegiatan-kegiatan rohani dan pelayanan meski tidak sepenuhnya bergantung kepada Yesus? Jika demikian, apa maksud Yesus mengatakan sedemikian gamblang bahwa kita tidak mungkin menghasilkan buah apa pun tanpa dan di luar Dia?

Ungkapan “tidak dapat berbuat apa-apa” di ayat 5 adalah penjelasan dari  “tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri” di ayat 4. Lebih jauh Tuhan mendefinisikan buah yang bagaimana yang Ia maksudkan, yaitu kenyataan berbuah banyak yang dinilai sebagai hal yang memuliakan Allah (ayat 8) yang melaluinya semua pihak mengenali orang atau lembaga yang bersangkutan sebagai murid atau pengikut Tuhan Yesus. Dengan kata lain, definisi buah di sini tidak semata kegiatan atau tindakan yang digolongkan kerohanian tetapi segala sesuatu yang dicirikan oleh kemiripan pelakunya dengan Yesus Kristus. Singkatnya, sebutkan kegiatan atau kebiasaan atau perilaku atau pencapaian apa pun dalam hidup ini, hanya akan dinilai berhasil bila mencerminkan Yesus dan memuliakan Allah. Jadi, hidup yang sukses dan bermakna itu demikian, hidup yang menggambarkan Yesus dan memuliakan Allah. Yang demikian itu tidak peduli jenis dan kategori perbuatan atau hasil tersebut berbentuk apa, hanya mungkin kita hasilkan apabila kita tinggal di dalam Yesus sang Pokok Anggur yang Benar.

Penyebutan Pokok Anggur yang Benar, menjelaskan mengapa hanya Yesus yang sanggup membuat kita menghasilkan hidup sukses-bermakna itu. Seluruh kehidupan Yesus membuktikan bahwa Ia sungguh menyukakan hati Allah. Ia sukses-bermakna di mata Allah sebab Ia taat mengabdikan hidup kepada rencana dan urusan Bapa di dunia ini, menjalani hidup yang memuliakan Allah, menjadi berkat bagi sesama. Tidak sampai hanya pada kehidupan-Nya sendiri, tetapi Ia sanggup memungkinkan siapa pun yang telah mengambil bagian dalam Dia, dihidupkan oleh-Nya. Nah jika Anda ingin hidup sukses-bermakna dalam penilaian Allah, masuklah dalam Yesus. Izinkan Ia memberdayakan hidup Anda oleh, melalui dan untuk-Nya saja.

Proses berbuah hidup berhasil-bermakna itu lebih rincinya dipaparkan Yesus melalui beberapa segi lain yang Ia akan kerjakan dalam kehidupan kita. Kita harus menerima pembersihan yang dikerjakan oleh Firman-Nya. Seperti halnya carang anggur yang ingin dibuat berbuah lebat harus dibersihkan dari daun-daun dan benalu yang memandulkan proses berbuah, kita pun harus kooperatif kepada desakan, dorongan, petunjuk Firman Allah yang memurnikan hati dan tindakan kita. Hal-hal yang memerlukan pembersihan Fiman antara lain adalah karakter, sikap, motivasi dan kebiasaan kita sehari-hari. Semakin kita bergaul dengan Firman dan mengijinkan Ia memberlakukan satu per satu kebenaran Firman itu di dalam kehidupan kita, semakin kita dibersihkan dari berbagai kelemahan, dosa, keakuan, disorientasi hidup.

Tuhan Yesus juga berbicara tentang kehidupan doa. Kemampuan menghasilkan buah-buah yang banyak dan yang memuliakan Allah ada hubungannya dengan berdoa. Kita perlu memohon agar hidup kita tidak menjadi gagal atau tidak memuliakan Allah. Namun doa yang pasti akan dikabulkan Tuhan menurut Yesus di sini ada syaratnya. Doa itu harus dalam Nama Yesus (14:14) dan doa yang sesuai apa yang Firman ajarkan, janjikan, inginkan (15:7). Tidak sembarang doa berkenan kepada Allah. Tidak segala doa otomatis akan beroleh jawab Allah. Tidak juga asal kita berdoa meski seserius dan sengotot bagaiaman pun, akan beroleh jawab Allah. Hakikat doa adalah tunduk kepada kedaulatan dan kehendak Allah. Doa dalam Nama Yesus dan dalam kepenuhan Firman adalah doa yang serasi hati Allah sendiri. Itulah doa yang akan beroleh pengabulan dan yang pengabulannya akan membuat hidup ini berhasil-bermakna dalam penilaian Allah.

Tidak ada yang gagal-tak bermakna bila orang hidup dan menjalani kehidupan di dalam Tuhan Yesus; sebaliknya tidak ada usaha dan keberhasilan sehebat apa pun yang dapat dinilai bernilai kekal oleh Allah bila kita di luar Yesus Kristus.