Beberapa tahun lalu di hari minggu, karena bangun kesiangan, saya pergi beribadah di sore hari di sebuah gereja dekat rumah. Kebetulan hari itu hari ulang tahun gereja tersebut. Entah kenapa sebelum khotbah, pendetanya memanggil satu anak remaja dan saya maju ke depan. Kepada si anak remaja pendeta bertanya apa saja segi-2 positif dari gereja tersebut. Maka si anak remaja menyebutkan beberapa hal positif menurut si anak remaja dan terjadi sedikit dialog dengan pendeta. Setelah itu giliran saya ditanya oleh pendeta, apa segi negatifnya gereja tersebut menurut saya. Dan sayapun menjawab hanya dengan satu kata, ”eksklusif”. Maka pendeta mempersilahkan saya kembali ketempat duduk tanpa ada dialog. Mungkin jawaban saya tidak sesuai dengan pendapat pendeta itu atau.... entah apa saya tidak tahu dan saya tidak juga berusaha mencari tahu, walaupun kami saling kenal.
Sebenarnya, eksklusivitas bukan hanya milik gereja kecil di atas, tetapi sudah menjadi identitas orang kristen secara umum bahkan secara global. Dan celakanya eksklusivitas orang kristen justru tidak membawa atau memberi dampak positif terhadap lingkungan, tetapi sebaliknya justru negatif. Bahasa sakralnya, kita sebagai orang kristen tidak lagi mejadi terang dan garam bagi kehidupan di sekitar kita, alias kita adalah ”kristen Zombi”. Tiap hari kita hidup gentayangan dan membuat orang-2 di sekitar kita alergi. Hanya sesama Zombi mungkin bisa hidup rukun. Di dalam buku berjudul ”Unchristian”, terbitan BakerBooks, tahun 2007, ditulis oleh David Kinnaman dengan kata pengantar oleh teolog George Barna, yang merupakan hasil survey, dicatat orang-2 kristen di Amerika dinilai sangat negatif oleh orang-2 bukan kristen. Misalnya :
anti homosexual 91%
judgmental 87%
hypocritical 85% ( saying one thing, doing another)
old-fashioned 78%
too involved in politics 75%
out of touch with reality 72%
insensitive to others 70%
boring 68%
not accepting of other’s faiths 64%
confusing 61%
Kriteria mereka yang memberikan pendapat :
Berumur antara 16 – 29 thn, outsider atau bukan kristen,
85% menyatakan kenal paling sedikit satu orang kristen yang mengaku born- again christian.
Born-again christian yang dimaksud adalah mereka yang mengaku percaya Tuhan Yesus sebagai anak Allah dan sebagai juru selamat mereka pribadi dan mereka percaya kalau mati masuk sorga.
Yang menarik adalah angka pendapat di atas cukup signifikan negatifnya. Mungkin kita berkata bahwa noumena tersebut tidak terjadi di Indonesia. Tetapi apa buktinya? Apakah gereja bisa membuktikan? Kalau tolok ukurnya pertumbuhan kuantitatif jemaat, maka hal itu akan sangat naif kalau dilihat dari persyaratan menjadi anggota jemaat sebuah gereja.
Di akhir buku tersebut diberikan beberapa saran, antara lain agar kita kristen tidak eksklusif sebaliknya bergaul secara terbuka dan melayani orang lain.
Petruspun mengajarkan agar karakter kristen adalah karakter yang di dasarkan iman tetapi tidak berhenti dengan iman, melainkan secara dinamis bertumbuh ke moral, pengetahuan sampai kasih kepada semua orang (2 Petrus 1: 5-8).
Kita kristen yang sepanjang hidup hanya berkutat dengan masalah doktrin dan tidak mampu melihat dunia nyata dengan segala permasalahannya akan bertentangan dengan sikap hidup Yesus di dunia yang begitu peduli dengan kondisi kehidupan orang-orang di jamanNya. Kalau tidak demikian, maka Tuhan Yesus tidak akan melakukan pelayananNya dari Galilea, daerah yang kondisi kehidupan masyarakatnya penuh keresahan, pergolakan karena tekanan berat dari pemerintahan Roma yang otoriter. Sebaliknya, Tuhan Yesus akan membangun basis pelayananannya di Yerusalem, dekat-dekat bait Allah dan komunitas orang-2 agamawi yang mapan dan eksklusif.
Eksklusif dengan fokus hanya pada iman juga mengandung potensi bahaya excessive confidence. Bagaimana mungkin German negara kristen yang melahirkan tokoh-tokoh kristen seperti Martin Luther dan Hitler seorang katolik bisa terjerumus ke dalam pola hidup barbar dengan holocaustnya yang sangat mengerikan? Jawaban dari para ahli,... excessive confidence. Apa bedanya dengan parisi & ahli taurat yang eksklusif & fokus hanya pada hukum taurat? Merekalah yang menyalibkan Tuhan Yesus.
Terakhir, iman yang eksklusif, personal dan privat, hanya mikirin diri sendiri, gimana hidup agar kalau mati masuk sorga, menyebabkan anak-anak muda remaja enggan pergi ke gereja. Karena iman yang sedemikian akan semakin tidak menarik untuk dibicarakan, di sharing kan sehingga tidak menjadi topik pembahasan hidup sehari-hari. Bukankah anak-anak muda remaja paling peka terhadap kehidupan sehari-hari? Siapakah yang sering melakukan demo kalau bukan mahasiswa?
Seharusnya kita kristen sadar bahwa kristen tidak dan bukan eksklusif, bahwa kristen adalah kasih yang terlibat aktif dalam menangani masalah kehidupan sehari-hari yang semakin hari semakin merosot oleh pengaruh si jahat, bahwa kristen bukan seperti menara gading merasa diri paling benar dan mementingkan hanya kehidupan kekal nanti di depan, egois. Dan bahwa kekristenan tidak akan dicatat oleh sejarah sebagai agama yang gagal, A Failed Religion. Karena ujung-2nya, kitalah sebagai orang “Kristen” yang harus mempertanggungjawabkan kepada Tuhan.
The difference between what we do & what we are capable of doing would suffice to solve most of the world’s problems.- Mohandas Gandhi.
And if you give yourself to the hungry and satisfy the desire of the afflicted, then your light will rise in darkness and your gloom will become like midday. And the Lord will continually guide you, and satisfy your desire in scorched places, and give strength to your bones; and you will be like a watered garden, and like a spring of water whose waters do not fail.- Isaiah 58 : 10-11
Salam dalam kasih Kristus, Bachtiar Candra(18.08.08)
Penulis: Bachtiar Candra






