Wanita dulu dan sekarang, jelas beda. Banyak kemajuan telah tercapai. Dan guru, insinyur, dokter, manejer sampai ke calon astronot pun, sekarang kita punya. Citra wanita modern ialah wanita karier, wanita tampil, bukan lagi wanita dapur. Namun ini tidak berarti bahwa perjuangan sudah selesai. Di gereja misalnya, kalaupun ada majelis wanita, paling hanya dianggap cocok untuk menangani komisi perkunjungan, panduan suara atau paling banter keuangan. Jelas, masih perlu perjuangan panjang.
Perjuangan yang bagaimana? Sementara orang menyamakan harkat wanita dengan perannya. Karena peran berkaitan dengan ciri diri seseorang, dalam hal ini seksualitas wanita; muncullah kecenderungan untuk bersaing dengan pria dalam bidang-bidang yang dulu didominasi pria. Peran yang diwarnai sifat kewanitaan sendiri, agak diremehkan. Memasak, menyusui, merawat anak, agak dipandang rendah. Yang dulu dianggap tabu untuk wanita, seperti menjadi sopir, tentara; main sepak bola, jadi kuli batu; bahkan mendominasi keluarga, dianggap wajar untuk menunjukkan kesamaan hak tadi.
Alkitab sering dituduh mengajarkan diskriminasi seks. “Bukankah Allah dilukiskan sebagai pria; Wanita tidak masuk hitungan, bahkan dianggap penghasil anak bagi para tokoh iman beristri banyak?” Bahwa dunia Alkitab dan para tokohnya hidup dalam konsep seperti itu, siapa dapat menyangkal? Tetapi, bahwa Alkitab mengajarkan konsep tadi; tunggu dulu! Bukankah Allah juga dilukiskan dengan ungkapan feminin: “memeluk, menaungi, mendukung.” Alkitab juga menonjolkan kisah para nabiah, pahlawan perang, dsb.; bahkan dengan radikal memasukkan beberapa nama wanita ke dalam silsilah sang Penebus.
Wanita sederajat dengan pria, bukan karena fungsinya dan perannya, tetapi karena sama-sama adalah citra Allah. Kemanusiaan yang pada hakikatnya adalah kebersamaan sosial wanita-pria, bersama-sama mencitrakan Allah. Allah Sang Pencipta adalah Allah yang kreatif. Dia tidak mencipta secara seragam, tetapi kekayaan kreativitas diri-Nya dipantulkan dalam keberbagaian yang masing-masing unik. Seksualitas wanita dan seksualitas pria yang masing-masing jelas ada kelebihan dan kekurangannya tetapi bersama melengkapi itu, adalah kehormatan dari Allah. Dalam seksualitasnya itu, baik wanita maupun pria ada batasannya, walaupun batasan tertentu tak boleh terlalu dimutlakkan demi egoisme masing-masing pihak. Wanita dan pria yang menerima kedirian dan perannya sesuai maksud penciptaan Allah (Ester, Ibu Musa, Rut, Maria, Ibu Abe Lincoln, Abraham, Daud, dlsb.), dijadikan-Nya goresan indah sejarah kemanusiaan.
Pola Alkitab inilah yang harus kita perjuangkan.
Penulis: Paul Hidayat






