Aah, andaikata waktu itu seperti aliran air di sungai yang kadang terbelokkan oleh batu kerikil, sehingga gangguan kosmis akan dapat mengubah arah aliran waktu kebelakang, kembali kemasa lalu – kembali muda. Secuil imajinasi inilah yang membuat banyak wanita setengah baya, rela merogo dompetnya puluhan juta untuk menghilangkan lemak di kantong mata. Jangan heran kalau di Jakarta khususnya akan dipenuhi dengan wajah-wajah polesan seperti ini - wanita-wanita yang “kelihatannya” lebih muda sepuluh tahun. Padahal dalam hati, mereka sadar bahwa waktu sebenarnya bukan milik mereka yang dengan bebas dapat diotak-atik.
Seorang penari ballet bergerak mengelilingi lantai untuk membuat lompatan indah, dua kali putaran dan dia mendarat dengan mulus di lantai diiringi tepuk tangan meriah. Kali ini dalam benaknya,dia ingin membuat tiga putaran. Tetapi dia tidak mampu melakukannya karena gerakan itu bukan miliknya. Segala persentuhannya dengan ruang dan lantai telah ditentukan oleh waktu. Bukankah segala sesuatu indah pada waktunya? Pada saat waktu menarik kita kedepan, keindahan itu mengalir dari luar ke dalam diri kita, seperti kata Elisabeth Kűbler-Ross: “People are like stained-glass windows. They sparkle and shine when the sun is out, but when the darkness sets in, their beauty is revealed only if there is a light from within.” Elisabeth telah bertahun-tahun memperhatikan momen detik-detik dari ratusan orang yang akan meninggalkan dunia ini. Dari pengalamannya tersebut, dia mengatakan hal di atas. Dan pada saat waktu menarik kita ke depan, “seharusnya” terlintas dalam angan kita keinginan untuk memiliki intimacy with God, membangun keindahan di dalam, sehingga hidup kita yang pendek ini mempunyai nilai kekekalan.
Sepanjang yang saya tahu, tidak banyak ternyata orang yang melakukannya. Salah satunya adalah Paulus. Hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalamku – kata Paulus dalam Galatia 2:20. Mungkin kita juga memiliki keyakinan seperti Paulus tetapi keyakinan tersebut belum benar-benar terwujud nyata dalam kehidupan kita sehingga kita tidak mampu membangun inner beauty. Untuk mewujudkannya, kita perlu mengawalinya dengan “serah terima” hidup tersebut dengan Kristus. Serah terima di mana kita menyerahkan hidup kita dan menerima hidup Kristus beserta buku penuntun hidupNya, Alkitab. Selama serah terima ini belum terwujud, akan sangat sulit bagi kita untuk dapat membangun inner beauty. Pada umumnya kita enggan melakukan serah terima. Kita masih memegang erat hidup lama kita di satu pihak, dan kita mau menerima hanya buku penuntun kehidupan Kristus, Alkitab saja dan bukan hidup Kristusnya di pihak lain. Akibatnya kita sering terombang ambing dalam hidup ini, tak kuasa terseret terbawa arus jaman. Hidup lama kita akan membuat kita takut tua, kuatir, bingung, marah, dengki, putus asa, haus pujian dan sanjungan, egois, serakah dan… you just name it. Kita coba mencari jawab di buku penuntun hidupNya, tetapi tidak menemukan solusi, sepertinya tidak cocok, tidak klop, ada gap antara tahu dan mengerti atau to understand dengan kemampuan menerima atau to agree with. Alkitab hanya cocok bagi mereka yang telah melakukan serah terima antara hidup lamanya dengan hidup baru, hidup Kristus. Pada saat kita kuatir, buku penuntun hidup itu mengatakan, serahkan kuatirmu kepadaKu. Pada saat kita marah dan ingin membalas, di dalam buku penuntun hidup itu dikatakan, pembalasan adalah hakKu. Pada saat kita sangat sukses, kaya dan berkuasa, dalam buku penuntun kehidupan itu dikatakan, jangan engkau membanggakan kekayaan, kebijaksanaan atau kekuatanmu; kalaupun kamu mau membanggakan diri, banggalah karena kamu kenal Aku, Tuhan. Serah terima secara tuntas akan membuat hidup dan kehidupan ini indah, bukan karena hal-hal di luar kita, tetapi karena keindahan itu muncul dari dalam, dari relasi intim kita dengan Dia yang dengan setia menungu kita di Surga.
Jadi bagaimana? Saya masih mempunyai voucher sedot lemak kantung mata dengan discount sebesar 50%. Bagi yang masih berminat, silahkan menghubungi saya. Atau kita anggap itu sampah dan dengan mata tertuju kepada Kristus, kita menanggalkan segala beban dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita sampai akhirnya kita bertemu Dia dan….. sekali lagi kita melakukan serah terima. Kali ini kita akan mendengar suara “Well done my son”. (Bachtiar Candra)
Penulis: Bachtiar Candra






