Kisah-kisah kepahlawanan selalu mengundang kekaguman kita. Kisah mereka yang hanya dengan bamboo runcing menghadapi penjajah yang terlatih dan bersenjata lengkap; kisah Daud yang muda belia berbekalkan lima butir batu dan ketapel menantang raksasa perkasa Goliat. Semua kisah orang-orang yang berani menatap bahaya dan kesulitan, membelakangi kepentingan diri dan kesenangan hidup, melakukan hal yang melampaui batas kemampuan dan pertimbangan sehat – sedangkan kebanyakan kita merasa takut melawan arus pendapat banyak orang – ini mendorong kita mencari apa rahasia keberanian semacam itu.
Dari manakah datangnya keberanian itu? Kekuatan fisik, sifat bawaan atau emosi yang kuatkah sumbernya? Jauh lebih dalam dari semua itu! Sumber keberanian terdapat di dalam hati. Hati yang berkeyakinan dan memegang teguh prinsip, mengalirkan tenaga, semangat dan gerak. Dari sinilah lahir keputusan dan tindakan melakukan apa yang harus dilakukan dan menolak melakukan apa yang tidak boleh dilakukan. Tuhan di pihak kita dan kita di pihak Tuhan, membuat kita berani meski melalui lembah maut penuh bahaya dan kejahatan. Iman, kemauan moral, cinta akan Tuhan dan kebenaran-Nya, melahirkan tenaga itu.
Keberanian tidak selalu harus berbentuk perbuatan spektakuler seperti yang dilakukan para pahlawan kemerdekaan kita. Perhatikan berbagai bentuk keberanian berikut! Seorang anak yang kembali memeriksakan diri ke dokter gigi, walau tahu betapa sakit gigi berlubangnya dibor dokter. Seorang pemuda yang menolak ajakan teman untuk ke pelacuran, walau diejek sebagai pengecut dan banci. Seorang asal agama lain yang beriman mengasihi Kristus, walau diancam akan dikucilkan dari keluarga dan sukunya. Seorang atlit yang menderita kelumpuhan berjuang mencari nafkah dengan belajar melukis dengan mulut. Wujud keberanian bisa dalam berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu, maju atau mundur, hidup atau mati untuk alasan yang benar, menolak dan menentang atau tunduk dan taat.
Ada dua hal yang terkait dengan keberanian. Pertama, risiko. Karena ingin hidup, orang mengambil risiko mati dalam proses pembedahan. Untuk orang tertentu, “berani” membuatnya merisikokan hidup, untuk yang lain merisikokan kematian. Kedua, ketahanan dan kesabaran. Sekali menegur, sekali mengampuni belum tentu merupakan keberanian. Tetapi berulang kali menegur, mendoakan, mengampuni, sabar dan penuh harap, menuntut keberanian percaya yang tinggi. Adalah suatu keberanian, untuk orang yang berulang kali gagal untuk bangkit dan mencoba kembali. Kristus mengambil risiko dan tahan menderita, demi menghasilkan kepahlawanan iman dalam diri kita! (ph)






