Buku Renungan Santapan Harian
Buku Hidup Dalam Terang
Buku Karier Panggilan atau Pilihan?
Buku Renungan Anak SuperKidz
Buku Rohani Ready To Serve
Buku Rohani Authority to Heal

Pengunjung

  • Site Counter: 293544
  • Unique Visitor: 60375

Meditasi Kristen

Setiap pagi masukkan akalmu ke dalam hatimu lalu hiduplah di dalam hadirat Allah sepanjang hari itu.”
(Rahib Gereja Orthodox Timur NN)

Perjalanan kehidupan iman orang Kristen seharusnya bertumbuh sebab sejatinya kehidupan Kristen adalah hubungan yang nyata dengan Tuhan Allah. Tentu saja kita mendambakan hubungan dengan Tuhan Allah tersebut semarak, intim, mencerahkan dan memberdayakan. Demikiankah kenyataannya? Kebanyakan orang yang telah lama menjalani kehidupan iman mereka bersaksi bahwa pengalaman nyata kehidupan iman mereka tidak seromantis itu. Ada saat kering, gersang, gamang, ragu, bahkan renggang dan gelap rohani yang teralami. Tentunya banyak faktor dapat kita tuding sebagai penyebab keadaan tidak ideal tersebut. Namun, salah satu sebab yang akan kita telusuri dalam tulisan ini adalah karena kekurangpadanan konsep dan praktik kita sendiri sebagai orang Kristen dalam memupuk disiplin doa dan saat teduh pribadi. Kemiskinan metode berkaitan langsung dengan kedangkalan suasana relasi kita dengan Tuhan.


Tulisan ini tidak akan meluas ke perbincangan tentang spiritualitas walaupun beberapa unsur terkait dengan kepentingan topik yang akan kita bahas tidak terhindari akan disinggung juga. Meskipun pertumbuhan rohani mencakup salah satu aspek penting dalam doktrin kehidupan Kristen atau keselamatan, namun bahasan ini bukan bersifat doktrin tetapi lebih bersifat pemaparan prinsip dan metode meditasi yang menunjang pemupukan disiplin kerohanian. Dalam upaya menggali model-model pemupukan kerohanian yang alkitabiah-teologis dapat dipertanggungjawabkan tulisan ini akan membedakan diri dari ajaran dan latihan yang bukan Kristen, namun tulisan ini tidak bertujuan polemis. Metode yang akan kita bincangkan kelak akan menyentuh dan dapat diterapkan dalam kebiasaan berdoa dan bersaat teduh kita, terutama secara pribadi tetapi juga dalam kelompok kecil atau besar. Dalam tulisan ini “kehidupan iman”, “kehidupan rohani”, “disiplin / kebiasaan rohani” dan “disiplin spiritualitas” dipakai secara tumpang tindih dan mencakup segi-segi kehidupan doa, saat teduh dan berbagai aspek disiplin rohani lainnya.

Pentingnya Panduan tentang Meditasi Kristen
Mengapa mempelajari tentang meditasi? Kehidupan doa dan kebiasaan saat teduh kita akan menjadi lebih semarak bermakna apabila dilengkapi dengan berbagai metode meditasi. Seringkali permasalahan seperti kurang fokus, tidak tekun, suasana hambar, kurang menghayati kehadiran Tuhan, tidak sanggup masuk ke kedalaman arti teks Alkitab dan masih banyak lagi pengalaman kurang memuaskan yang kita alami dalam disiplin kebiasaan rohani kita disebabkan oleh kekurangan kita dalam menggunakan berbagai metode penunjang yang beroleh pembenaran dari teologi Kristen alkitabiah.

Dalam kondisi kehidupan yang bagaikan gelanggang balap Formula I yang bergerak super cepat, penuh pilihan kritikal, sarat ketegangan ini, orang mendambakan pelatihan olah batin yang memungkinkannya memiliki kedirian jasmani-rohani yang utuh sejahtera, segar, vital, tanggap, menghasilkan kehidupan yang berhasil dalam segala seginya. Janji menarik dari berbagai teknik meditasi Timur dengan kesaksian tentang dampaknya yang “ces-pleng” serta persuasi bahwa meditasi seperti yang diajarkan yoga, reiki, chi-kung, dlsb. sama sekali tidak menyebabkan orang berkhianat terhadap komitmen iman dari keyakinan religius yang dianutnya, bisa menyebabkan orang Kristen tergoda untuk mempelajarinya. Padahal pelatihan-pelatihan yang dinafasi oleh filsafat keagamaan Timur yang dinamistis-pantheistis itu (lihat tulisan saya “Antara Spiritisme dan Spiritualitas Kristen” Hidup dalam Ritme Allah, 2005) tidak bisa dibenarkan oleh Alkitab meski hanya meminjam metode atau tekniknya. Karena itu merupakan suatu kebutuhan besar untuk kita menggumuli prinsip dan metode meditasi yang beroleh dukungan ajaran dan contoh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta menggali kekayaan berbagai tradisi Gereja dan pengalaman para tokoh Gereja dari zaman ke zaman.  

Meditasi Kristen? Kristen meditasi?
Sebelum kita maju lebih jauh lagi tentang prinsip dan metode yang di dalamnya kita mengembangkan berbagai metode meditasi, kita perlu memberikan batasan jelas apa yang dimaksud dengan meditasi dan unsur apa saja di luar kegiatan manusia yang  terlibat sebagai unsur penting dalam meditasi. Selain perlu mengenali arti atau batasan meditasi dalam terang ajaran Alkitab, kita juga perlu memiliki wawasan tentang berbagai istilah lain dengan masing-masing tekanan seperti yang telah dipahami di dalam tradisi spiritualitas Kristen.

Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ada beberapa istilah digunakan yang diterjemahkan sebagai “merenungkan” atau “menyimpan dalam hati” atau yang dalam tulisan ini kita sebut meditasi. Lingkup arti meditasi dalam Perjanjian Lama adalah: keadaan orang dalam kedalaman dirinya mencari-cari kebenaran, merenung-renung keberadaannya dalam konteks mencari kebenaran (Mzm 77:7); memandang jauh sambil berharap-harap (Kej 24:63); merenungkan atau menyimpan dalam hati (Yos 1:8; Luk 2:51); mengingat atau memikirkan berulang-ulang, memperhatikan untuk mengerti (Mzm 1:1; 49:4; 77:6; 2Tim 2:7). Meditasi dalam Alkitab tidak hanya kegiatan yang dilakukan dalam kesunyian tetapi bisa juga dilakukan dengan mengucap, menyuarakan berulang, mendoakan (Mzm 19:15). Dari ayat-ayat tersebut terlihat jelas bahwa objek perenungan diam atau bersuara itu adalah firman Allah dan perbuatan Allah dengan tujuan seseorang mengenali Allah secara lebih dalam dan bermakna dalam kehidupannya. Kegiatan merenung atau meditasi itu berpangkal dari hati dan melibatkan seluruh segi kemanusiaan orang itu: pikiran, perasaan, imajinasi, dengan berbagai ungkapan wajarnya seperi suara, penglihatan dlsb.

Dalam praktik disiplin kerohanian seperti yang telah dikembangkan oleh banyak tokoh spiritualitas Kristen dalam bebagai tradisi, kita jumpai banyak sekali variasi bentuk dan kedalaman pengalaman meditasi. Selain meditasi dikenal juga istilah kontemplasi. Apabila meditasi adalah tingkat perenungan yang mengalir dari tingkat pemfokusan pikiran kepada Allah dan firman-Nya, maka kontemplasi adalah perenungan juga tetapi terutama dalam rangka memupuk suasana penghayatan hubungan kasih yang mesra dengan Allah. Untuk mudahnya dalam tulisan ini kita akan menggunakan pengolongan ke dalam tiga batasan bentuk: wilayah analitis, wilayah sintesis, wilayah mistis. Di dalam wilayah analitis, doa akan berkisar di sekitar fakta kehidupan dan fakta pekerjaan Allah, sedangkan saat teduh akan lebih bersifat studi yakni menggali, menelusuri, menemukan secara cermat hal-hal yang terdapat dalam bagian Alkitab yang dipelajari. Di dalam wilayah sintesis, doa akan lebih bersifat syukur, puja, penghayatan, sedangkan saat teduh bersifat mengaitkan apa yang sudah ditemukan secara studi analitis ke dalam kenyataan diri pembaca Alkitab. Di dalam wilayah mistis, baik doa maupun saat teduh (perenungan Alkitab) sama memuncak menjadi persekutuan kasih antara Tuhan dan manusia yang bersangkutan dalam suasana ketenggelaman kasih yang melampaui kata dan pikiran.

Meski berbeda, ketiga wilayah ini setepatnya dilihat sebagai suatu aliran yang berpangkal dari yang bersifat fakta, studi, analitis masuk lebih dalam ke suasana penghayatan sampai akhirnya mengalami kesatuan dalam persekutuan iman, pengharapan dan kasih Kristiani. Dalam masing-masing wilayah ini penting sekali tiap orang Kristen menggantungkan dirinya kepada aktivitas Roh Allah dan menyesuaikan diri dengan penyataan Allah dalam firman kebenaran-Nya, bukan pada kelebihan unsur-unsur kemanusiaannya sendiri. Dalam artian seperti yang sudah kita bahas tadi, maka kita pahami meditasi sebagai disiplin rohani yang melibatkan komitmen iman, pikiran, perasaan, imajinasi, tubuh, pengaturan kondisi-kondisi penopang seperti ruang dan waktu, simbol, dlsb. agar seseorang semakin seirama dengan ungkapan pernyataan kasih dan kehendak Allah bagi hidupnya. Pengalaman rohani dan disiplin kerohanian merupakan suatu aliran hubungan kasih yang makin intim di dalam dinamika Roh dan panduan firman Allah.

Soal Relasi
Pertumbuhan kehidupan iman atau spiritualitas untuk orang Kristen utamanya adalah masalah relasi bukan masalah metode dan teknik. Metode atau teknik sebaik apa pun jika dilepaskan dari relasi dengan Tuhan bisa menjerumuskan kita kepada pemberhalaan cara dan metode. Praktik pemupukan kerohanian yang demikian akhirnya akan menjerat kita ke dalam kehidupan rohani yang semu dan menipu. Karena kita semua telah tercemar dosa, ada banyak celah dari si jahat yang dapat ia manfaatkan untuk menipu kita. Kita perlu waspada agar tidak memperlakukan metode atau teknik seolah Tuhan tergantung kepada mereka dalam menumbuhkan kehidupan kerohanian kita.

Tatkala kita berusaha memupuk disiplin kerohanian, kesadaran bahwa disiplin itu adalah pemberian Allah untuk kita harus kita sadari sedalam-dalamnya. Seluruh segi kehidupan rohani beserta aspek-aspek praktisnya adalah karunia Allah untuk kita. Ia lebih dulu berinisiatif memungkinkan kita memiliki hubungan anak-Bapa dengan-Nya melalui karya penyelamatan Yesus Kristus. Ia bahkan yang menolong kita, bekerja dalam kita melalui Roh Kudus agar kita mampu membuka diri kepada undangan rangkulan-Nya dan kepada ujaran-Nya melalui pembacaan Alkitab. Kita berdoa, memupuk kebiasaan bersaat teduh, bersekutu dengan sesama saudara seiman, adalah bukti bahwa Roh-Nya membangkitkan kerinduan dan tindakan tersebut dalam diri kita. Allah Bapa, Putra dan Roh yang sepenuhnya aktif mengaruniakan kita kemampuan untuk menanggapi pemberian dan pembukaan diri-Nya dengan pemberian dan pembukaan diri yang sepadan. Karena itu, janganlah kita puas hanya dengan legalisme atau formalitas metode dan teknik. Marilah kita sungguh-sungguh haus akan Allah saja (Mazmur 63). Karena itu pula, janganlah kita terlalu kuatir tatkala kondisi disiplin kerohanian yang kita jalani tidak senantiasa menggembirakan. Ia yang memulai perjalanan rohani kita akan memandu dan memampukan kita untuk memohon, mencari, serta mendapatkan diri-Nya melalui jalan-jalan-Nya yang kaya. Berbagai teknik dan metode pun harus terus menerus kita uji kesepadanannya dengan kemuliaan dan kekudusan Allah serta kesesuaiannya dengan penyataan-Nya dalam Alkitab.
Sampai di sini kita perlu membedakan antara meditasi dan tradisi mistis Kristen dari meditasi dan tradisi mistis yang dipengaruhi oleh konsep religi dinamistis-pantheistis. Singkatnya (untuk bahasan lebih rinci lihat Hidup dalam Ritme Allah) kita perlu membedakan di sekitar konsep dan di sekitar metode. Ada perbedaan tajam dalam hal konsep tentang Allah, manusia, materi, kejahatan dalam Kekristenan dari yang diajarkan dalam tradisi agama bukan wahyu. Allah bukan bagian dari realita keseluruhan sebab Allah dalam Alkitab menyatakan diri sebagai Allah yang hidup – bukan sekadar zat atau kekuatan dasari-alami – yang menciptakan realita ciptaan. Karena itu persatuan hakikat atau zat adalah sesuatu yang tidak mungkin dan harus ditolak jauh-jauh baik dalam konsep maupun dalam praktik kerohanian kita. Meski dalam Kekristenan ada tradisi mistis juga, namun yang masih bisa kita anggap benar dan alkitabiah bukan mengajarkan persatuan zat melainkan persatuan relasional dalam iman, harap dan kasih yang memuncak.
Sebagai akibat dari pandangan Alkitab tentang Allah Pencipta, maka Kekristenan memandang manusia sebagai bagian dari ciptaan. Sebagai ciptaan, panggilan manusia bukanlah untuk bersatu dengan Allah tetapi untuk bersekutu. Karena manusia ada dalam keadaan terjatuh dalam dosa, panggilan hidup bersekutu dengan Allah itu hanya dapat diujudkan berdasarkan anugerah Allah saja yang menyatakan diri dan memperdamaikan diri dengan manusia melalui Yesus Kristus. Dengan menyambut anugerah penyelamatan dari Yesus Kristus dalam iman, persekutuan itu terjadi. Hubungan manusia dengan sesamanya pun sebenarnya bukan hubungan mistis tetapi bersifat sosial yang dilandasi oleh nilai-nilai kemanusiaan seperti saling percaya, hormat, menghargai, rendah hati, dlsb. Maka Kekristenan tidak dapat membenarkan olah batin seperti yang diajarkan dalam teknik meditasi Timur atau juga oleh kalangan Kristen tertentu yang membuka kemungkinan terjadinya semacam transfer tenaga rohani satu kepada lain meski dengan alasan dan tujuan baik sekali pun. Teknik kything tadi yang mengajarkan transfer pengaruh rohani diri seseorang kepada lainnya bisa dipertanyakan apakah tidak boleh jadi bahwa roh-roh lain sedang bekerja dan menyatakan manifestasi yang seolah bermanfaat bagi manusia.
Konsekuensi lain dari menerima bahwa manusia adalah ciptaan yang tunduk kepada kedaulatan Allah ialah bahwa kita tidak bisa memaksa Tuhan harus tunduk kepada metode, perilaku, teknik, benda, simbol bahkan formula doa (mantra). Artinya, lain dari ajaran mistik Timur maka dalam Kristen pengaruh disiplin rohani menggunakan metode dan alat bantu apa pun tidak ditentukan oleh kemauan manusia tetapi kehendak Allah yang pasti akan sesuai dengan yang dinyatakan-Nya dalam Alkitab. Alat-alat penunjang kerohanian pun harus mengutamakan relasi dengan Allah ini. Maka dalam praktiknya meditasi Kristen tidak dilihat sebagai sesuatu yang mengikat atau yang mengandung kekuatan dalam dirinya. Tidak merupakan keharusan, misalnya bahwa setiap kali kita berdoa harus selalu ada nyala lilin yang menciptakan keterfokusan dan kesiapan batin. Tidak benar bahwa ada medium seperti air, minyak, atau mantra (meski istilah-istilah alkitabiah sekalipun) yang mengandung khasiat memungkinkan pengaruh zat illahi membawa dampak dahsyat ke dalam diri kita. Alat-alat itu hanya bersifat simbol (akan diuraikan di bawah) yang membantu iman kita menghayati relasi dengan Allah secara lebih jelas, khidmat, mesra. Berbagai pengaruh rohani yang kita alami dalam disiplin kerohanian bukan disebabkan terjadinya aliran energi ilahi ke dalam diri kita melainkan karena roh kita disegarkan, dikuatkan, disigapkan oleh kehadiran Roh Allah dalam firman-Nya.

Kepribadian Unik dan Tingkat Pertumbuhan
Kita patut mensyukuri fakta bahwa Allah menciptakan tiap manusia secara unik. Bahkan meski berbagai teori kepribadian dalam psikologi menggolongkan beberapa tipe kepribadian pun, tetap saja terdapat kekhasan dan kombinasi jenis-jenis kepribadian dalam diri tiap orang secara unik. Alkitab sendiri dalam pemaparannya tentang kisah berbagai tokoh Alkitab menyiratkan adanya berbagai jenis kepribadian dan bahwa Allah memperlakukan tiap orang tidak dengan pukul rata. Dengan menyadari adanya perbedaan jenis sifat atau kepribadian pada tiap orang ini dan dengan menyaksikan keunikan cara Tuhan membentuk masing-masing tokoh Alkitab, kita patut membangun disiplin kerohanian yang menjawab kekhasan diri kita masing-masing.

Abraham, Ishak, Yakub meski satu garis keturunan nyatanya bertumbuh, meresponi Tuhan dan diurus Tuhan dengan cara berbeda. Dalam Perjanjian Baru hal tersebut semakin jelas, terutama karena interaksi pemuridan yang Yesus lakukan terhadap masing-masing murid-Nya memang jelas berbeda satu dari lainnya. Mungkin secara garis besar dapat kita golongkan beberapa tipe kepribadian yang menyebabkan ciri kehidupan Kristen berbeda itu seperti contoh berikut. Ada Kristen tipe Maria yang sangat tersentuh oleh Yesus dan dengan cara dramatis juga mengungkapkan peninggiannya terhadap Yesus dengan meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal dan menyeka dengan rambutnya (Yoh 12:3). Atau Kristen tipe Yohanes yang mengendapkan pengalaman-pengalamannya dengan Yesus ke dalam proses perenungan batin yang dalam sehingga kelak mampu menuliskan injil yang unik dan reflektif. Atau model Petrus yang sangat spontan dan tak segan mengutarakan pendapat meski hanya melalui proses berpikir pendek (Mat 14:28; 26:35). Atau bisa juga tipe Paulus yang sedemikian dinamis ingin terus bergerak maju dalam pelayanan missi Injil ke seluruh dunia.

Apakah contoh-contoh tadi membuat kita beralasan bahwa ada tipe kepribadian tertentu yang tidak cocok dengan disiplin kerohanian yang cenderung diam, misalnya? Apakah dengan demikian, orang yang merasa dirinya tipe seperti Petrus atau Paulus beralasan mengatakan bahwa ia tidak cocok dengan disiplin kerohanian yang lebih berciri tipe Maria atau Yohanes? Jika alasan ini dapat diterima, benarkah bahwa ada tipe kepribadian tertentu yang tidak tepat dan tidak mungkin cocok bagi mereka yang bukan tipe perenung. Jadi mereka dapat dibenarkan untuk model doa atau saat teduh yang tidak bersifat merenung tetapi yang bersifat aktivitas. Jadi itu berarti benar mengembangkan disiplin kerohanian yang singkat, tergesa, bahkan sambil melakukan kegiatan lain?

Jawab terhadap permasalahan ini terletak pada pemahaman kita tentang pertumbuhan. Tiap orang menjalani proses pertumbuhan – kematangan jiwa dan kematangan rohani – membuat ciri kepribadian tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang statis. Dalam proses pertumbuhan kejiwaan, terlebih kerohanian, terjadi berbagai perubahan. Sebagai orang yang mengalami proses pembaruan di dalam Tuhan Yesus Kristus, kita percaya bahwa seluruh keberadaan kita sedang mengalami proses pengudusan. Alkitab menyadarkan kita bahwa ciri kepribadian kita bukanlah kondisi seperti yang Allah inginkan sebab telah mengalami pengaruh buruk dosa di dalamnya. Karena itu tidak ada tipe kepribadian mana pun yang boleh dianggap kriteria untuk menentukan bagaimana seharusnya seseorang bertumbuh dalam kerohaniannya.
Satu-satunya kepribadian yang boleh kita jadikan ukuran sebab seutuhnya kudus adalah Yesus Kristus, sang Manusia sejati. Maka model sifat dan kepribadian Yesus harus menjadi tujuan hidup kita dari waktu ke waktu. Maka model disiplin-disiplin rohani seperti yang Yesus pernah praktikkan seharusnya kita pelajari, kembangkan dan miliki juga. Bacalah kisah-kisah Injil untuk tujuan melihat betapa bermulti-dimensi model kehidupan kerohanian Tuhan Yesus. Jika kita mempelajari Abraham, Ishak, Yakub, Petrus, Yohanes atau Paulus kita juga menemukan bahwa mereka yang kemudian tidak sama-sama saja dengan ciri kepribadian mereka yang terdahulu.  Demikian pun seharusnya kita. Tulisan-tulisan Petrus menunjukkan bukan saja sifatnya yang energetik tetapi juga kedalaman perenungan teologis tentang dampak anugerah Allah. Paulus pun bukan hanya menunjukkan sisi kepribadian yang banyak berpikir, tetapi salam-salamnya yang hangat mengungkapkan kemanusiaan yang sangat hangat. Di dalam kuasa anugerah-Nya dan pertolongan Roh Kudus, kita dapat mengagumi Allah atas perubahan-perubahan yang Ia mungkinkan terjadi dalam kepribadian kita dan di dalam pengalaman berbagai

 
Teologi Kristen tentang Tubuh
Selangkah sebelum kita menelusuri hal-hal praktis meditasi untuk memupuk disiplin kerohanian, kita perlu lebih dulu berbicara tentang pandangan teologis Kristen mengenai tubuh dan hal-hal yang akan kita libatkan dalam meditasi yang terkait dengan kebertubuhan kita.

Allah menciptakan kita sebagai makhluk jasmani-rohani. Dengan tubuh ini kita berkomunikasi bahkan berelasi baik dengan sesama juga dengan Allah. Kita menyembah Allah, memuji Dia, berdoa, meresponi, melayani, menaati Allah dengan tubuh. Persembahan syukur kita terhadap keselamatan dari Yesus Kristus adalah tubuh ini (Rm. 12:1-2). Tidak heran bahwa kerohanian dalam perspektif Kekristenan sedemikian bersifat jasmani. Makan, minum, pakai, canda, kerja, belajar, kemilikan, semua yang dengan tubuh ini kita lakukan adalah ibadah kita kepada Allah. Tubuh dan roh meski beda namun sedemikian dekat sebab diciptakan Allah untuk jadi unsur-unsur kita, menyebabkan masing-masing saling berpengaruh kepada lainnya. Masing-masing bisa mempengaruhi lainnya baik secara positif maupun negatif. Itu sebabnya kita harus memperlakukan tubuh ini sebagai rumah Roh Allah (1Kor 6:19-20) dan mengawasi gaya hidup jasmani kita seperti soal makan dan minum (1Kor 11:29-30). Sebaliknya pembaruan yang terjadi dalam kerohanian kita kerap kali juga berakibat pada kondisi jasmani kita. Ada banyak kesaksian tentang orang disembuhkan dari penyakit arthritis, lambung, tulang, kulit, tekanan darah tinggi, dlsb. karena yang bersangkutan menerima kehendak Tuhan untuk ia mengampuni kesalahan orang lain atau meninggalkan dosa tertentu. Menyadari hubungan erat tubuh dengan kerohanian ini penting untuk kita menemukan bentuk meditasi bagaimana yang membantu disiplin kerohanian kita bertumbuh dengan lebih baik.

Menunjang teologi tubuh berdasarkan penciptaan, kita juga menemukan prinsip menempatkan tubuh dalam posisi yang benar dalam terang inkarnasi Yesus, pelayanan Yesus yang memulihkan berbagai masalah jasmani orang yang ia layani, kebangkitan Yesus dari kematian dan pengharapan kebangkitan tubuh kita kelak pada kedatangan Yesus kedua kali. Jadi, bukan saja ungkapan tubuh sudah pada tempatnya bahkan sudah seharusnya lebih kita perhatikan dalam disiplin kerohanian kita.

Tubuh dalam Disiplin Rohani
Beberapa hal berikut dapat kita kembangkan dalam kehidupan doa dan saat teduh kita.

  • Ungkapan tubuh seperti berlutut, menengadah, tiarap, mengangkat tangan, meloncat bahkan menari adalah hal yang dianggap benar untuk dilakukan umat Tuhan dalam ibadah mereka. Dengan berlutut kita mengungkapkan perendahan diri kita yang bercela dosa dan kegagalan di hadapan Dia yang mulia dan tak bercela. Kita berlutut untuk menunjukkan pertobatan, ketidakberdayaan, penundukan diri kita. Kita menengadah, mengangkat tangan menunjukkan kerinduan kita untuk membuka diri lebih luas bagi Allah dan kehendak-Nya. Kita meloncat atau menari dalam kesukaan yang ditanamkan Roh Kudus sebab berbagai perbuatan besar yang Ia lakukan dalam Yesus Kristus sudah kita alami.
  • Bukan saja postur tubuh tertentu mengungkapkan sikap hati umat kepada Allah, bebagai ungkapan isi hati Allah pun dinyatakan-Nya dengan memerintahkan para hamba-Nya mengambil postur tubuh tertentu. Perhatikan bagaimana Allah memerintahkan simbolisme tubuh kepada Yehezkiel, Yeremia, Hosea untuk menyampaikan berbagai pesan kenabian dari Allah untuk umat-Nya (Yehez 4, 5; Yer 13:1-11; Hos 1, 2, 3).
  • Ungkapan-ungkapan tubuh seiring dengan ungkapan musikal wajar dalam ibadah. Mazmur menunjukkan bahwa berbagai ungkapan tubuh dan musikal mendapat tempat wajar dan terjadi serasi dalam ibadah. Ada banyak sekali istilah dalam bahasa Ibrani yang dipakai dalam ibadah yang menunjukkan terjadinya ungkapan meloncat, menari, berputar, bertepuk tangan, menyanyi, membuat musik, dlsb. Apabila menangis, meratap, tiarap, mencabikkan jubah adalah ungkapan wajar kehancuran hati, demikian pun menyanyi, menari, meloncat adalah ungkapan wajar penghayatan penuh syukur terhadap anugerah dan karya besar Allah.
  • Sikap hati mengalami penguatan ketika kita ungkapkan dalam berbagai kondisi jasmani. Tubuh kita perlu kita perlakukan dengan tepat agar menjadi alat yang menunjang terjadinya suasana disiplin kerohanian yang bermakna. Misalnya kita perlu tahu kapan harus menenangkan tubuh kita dari segala ketegangan. Ketegangan fisik seperti otot-otot lengan, leher, bahu yang kaku bisa jadi merupakan tanda dari ketegangan lebih dalam dalam hidup kita, atau sekadar keletihan karena kesibukan sehari-hari. Apabila kita merasakan ketegangan yang disebabkan oleh faktor rohani, dengan jujur kita perlu memohon pemulihan Allah atas hidup kita kembali berlaku dan dihayati secara baru. Kedamaian sejati bukan sekadar faktor emosional tetapi bertumpu pada sumber spiritual. Hanya Allah sumber pengampunan dan pemulihan yang di dalam Yesus Kristus dapat menganugerahkan kita keadaan hati damai sejahtera penuh.
  • Bagian-bagian tubuh yang tegang dapat kita latih untuk menjadi relax yaitu dengan jalan menegang-kendurkan bagian-bagian tersebut berulang kali. Rasakan bagian tubuh mana yang tegang, kencangkan otot-otot bagian tubuh tersebut lalu lepaskan dan rasakan kenikmatan ketika otot-otot itu relax. Kombinasikan itu dengan latihan menarik nafas dalam dan menghembus nafas panjang perlahan berulang kali. Cara duduk, berdiri, berbaring pun perlu kita biasakan agar mengikuti prinsip kesehatan. Jangan biasakan cara duduk, berdiri, berjalan, berbaring yang lama-kelamaan menyebabkan kondisi tubuh kita mengalami gangguan. Tatkala kita berdoa atau bersaat teduh, pakailah kursi atau tempat doa yang menunjang postur tubuh relax namun menunjang ungkapan hati Anda.
  • Berbagai kapasitas indra kita pun terkait dengan fungsi anggota tubuh kita. penglihatan dengan mata, penciuman dengan hidung, sentuhan dengan kulit anggota badan kita tertentu, dlsb. Indra kita dapat dipakai untuk memupuk suasana disiplin rohani yang bermakna. Pikirkan dan temukan hal-hal apa saja dapat kita pakai agar dengan indra kita tertolong untuk lebih menghayati disiplin kerohanian kita. Sudah waktunya kita berani bereksperimen dengan cara kita berdoa. Biasanya kita berdoa entah duduk atau berlutut dengan melipat tangan dan memejamkan mata. Kita berpikir dengan cara itu kita bisa mengembangkan sikap khusyuk di hadapan Allah. Tetapi dalam Alkitab kita beroleh gambaran bahwa para tokoh PL dan PB berdoa sambil berdiri, menengadahkan wajah ke langit – tentu dengan mata terbuka – ke arah Allah sambil tangan dan telapak tangan mereka menadah seolah menyatakan keterbukaan mereka akan bebagai bentuk curahan berkat Tuhan.
  • Selain pengunaan simbol-simbol yang nanti akan kita bahas lebih rinci, kita perlu menyadari betapa besarnya potensi dari perpanjangan fungsi-fungsi indrawi kita. Terutama, kembangkanlah kebiasaan melihat secara batin yaitu membayangkan secara mental hal, gambaran, penglihatan yang menolong kita masuk ke disiplin kerohanian tersebut secara lebih bermakna. Misalnya, di awal dan sepanjang doa serta saat teduh kita, kita dapat membayangkan diri kita sebagai anak yang sedang di pangkuan Bapa surgawi kita. Agar gambaran-gambaran itu tidak liar dan menyimpang, gunakanlah gambaran yang ada dalam Alkitab. Ketika berjalan di sekitar halaman rumah kita, secara mental bisa kita bayangkan bahwa kita sedang menghayati berjalan bersama/dalam Roh Allah. Bisa juga memakai gambaran konsep yang Alkitab nyatakan. Misalnya, ketika mandi kita ingat bahwa kita perlu dibasuh-kuduskan oleh darah Yesus; ketika mencuci alat-alat makan kita teringat peringatan Yesus untuk tidak hanya membasuh bagian luar tetapi terlebih juga hati; ketika makan kita ingat bahwa kita perlu tiap-tiap firman yang keluar dari mulut Allah untuk keseluruhan hidup kita.
  • Musik terkait dengan indra pendengaran. Musik bukan saja bisa menjadi ungkapan dari sikap hati kita, musik juga bisa menjadi sarana perjumpaan mendalam kita dengan Tuhan. Di dalam lagu yang bermusik dan berlirik baik secara teologis, kita meresapi dan mengumandangkan dengan penuh takjub-syukur kebesaran dan kebaikan Allah. Lagu dan musik demikian membantu jiwa kita mengalami penyenadaan dengan keindahan sifat-sifat Allah yang menakjubkan. Dengan sendirinya lagu dan musik boleh menjadi kendaraan kehadiran dan karya Allah teralami segar dan mendalam. Itu sebabnya kita perlu belajar selektif dan hati-hati dalam memupuk perbendaharaan lagu dan musikal dalam disiplin kerohanian kita, supaya jangan teologi dan spiritualitas kita mengalami pendangkalan atau menjadi ego-sentris. Sebenarnya tidak perlu kita menunggu sampai perbendaharaan lagu dan musik kita hebat baru kita bisa memupuk disiplin kerohanian yang berisi. Kita bisa mengubah ayat Alkitab, atau Mazmur mana saja menjadi senandung lagu sederhana namun sungguh mengungkapkan sikap hati kita yang tulus kepada Allah.
  • Segi lain yang teramat penting dalam meditasi dan diwakili oleh indra pendengaran adalah dengar-dengaran secara mental-rohani. Kita hidup dalam peradaban yang semakin penuh dengan suara bahkan sudah sampai ke tingkat yang polutif dan merusak kehidupan. Suara kendaraan, mesin, musik, percakapan sedemikian memenuhi lingkungan hidup kita, termasuk kita pun akhirnya menjadi resah dalam kesunyian. Kita menjadi sulit sekali untuk berdiam diri, memupuk kemesraan rohani dengan Allah dalam kesunyian, dan memupuk sikap afektif dan atentif penuh kepada sang Kekasih jiwa kita. bahkan ketika kita berdoa tanpa suara pun kerap kali suara-suara kita saja atau sekitar kita memenuhi otak dan benak kita, lalu dimanakah suara Tuhan? Dalam memupuk disiplin kerohanian, suasana meditatif harus dikokohkan oleh kesediaan kita untuk menyingkirkan segala bentuk kebisingan lalu diam seutuhnya di hadapan Allah agar kita sepenuhnya terpusat kepada apa saja yang ingin Ia ungkapkan: kata, firman, belaian, pelukan, hiburan, teguran dan berbagai ungkapan ilahi lainnya. Keadaan diam ini perlu kita ulang-ulang masuki tidak saja pada tahap persiapan doa dan saat tduh, tetapi juga sambil kita berdoa dan bersaat teduh sebagai ritme yang biasa terjadi dalam dialog dua arah yang seimbang. Ada saat kita bertanya, bicara, memohon, ada saat Tuhan harus kita dengarkan.

Ruang dan Waktu dalam Disiplin Rohani
Terhubung logis dengan keberadaan jasmani kita, faktor ruang dan waktu perlu juga kita berikan perhatian yang tepat. Pemilihan dan penetapan ruang serta waktu untuk kita memupuk disiplin kerohanian yang baik sangat menentukan apakah kita akan mengalami spiritualitas yang bermakna atau tidak. Seperti halnya postur tubuh bisa menjadi ungkapan dari sikap hati yang positif bergerak maju dalam spiritualitas, demikian pun pemilihan ruang dan waktu. Pada dasarnya penetapan ruang dan waktu adalah ungkapan dari keputusan untuk membuka diri dan mempersilakan Tuhan menjadi sentral dalam kehidupan kita. Tempat mana pun bisa menjadi sarana di dalam mana kita mengungkapkan bahwa kita ingin Tuhan berjalan bersama kita. Tentu akan lebih bermanfaat lagi apabila di tempat-tempat dimana kita sering berada – di rumah, di kantor – kita menciptakan tempat dengan suasana seolah kita berhenti dalam irama hidup kita untuk khusus mendengarkan sapaan Allah, atau menyambut gamitan tangan Allah. Ini justru hal awal yang sangat sulit untuk kita lakukan, terutama apabila kita memang terbiasa dengan irama hidup yang serba cepat, bising, penuh kegiatan. Sesulit apa pun, kita harus mencari jalan memberi ruang bagi Allah apabila kita memang serius tentang pentingnya Allah dalam kehidupan kita. Kebiasaan-kebiasaan kecil untuk sengaja mengambil waktu beberapa menit, menengadahkan hati penuh antisipasi kepada Allah lambat laun akan menolong kita memiliki kebiasaan disiplin kerohanian yang lebih berisi.

Lebih sulit lagi dari berhenti untuk Allah dengan menyediakan ruang dan waktu bagi-Nya adalah berdiam dalam suasana itu secara berarti. Kemampuan kita untuk berdiam dalam suasana meditatif angat dipengaruhi oleh ketepatan menyediakan ruang dan waktu yang tepat untuk bermesra iman-harap-kasih dengan Allah. Selain ruang dan waktu yang teratur, kreatiflah mencari ruang dan waktu istimewa bagi perjumpaan dengan Allah itu. Ambillah kesempatan ketika berlibur atau bertamasya untuk menyendiri dengan Allah. Di tepi atau tengah ombak laut, di kaki atau puncak gunung, di pagi atau malam hari, telusurilah yang mana yang pas untuk Anda menemukan saat dan tempat untuk bersekutu dengan Tuhan. Sekali lagi ingat bahwa karena yang utama adalah relasi bukan tempat dan saat, maka yang utama dari berhenti dan diam dalam disiplin kerohanian itu adalah menghayati janji-Nya bahwa Ia senantiasa hadir beserta kita (Yoh 14:18; 17:24) dan itu sebabnya kita bisa diam di dalam Dia dimana dan kapan saja (Yoh 15).

Simbol dan Imajinasi
Allah sebagai Pencipta yang kreatif dan imajinatif adalah sebab mengapa kita ciptaan yang adalah gambar-Nya juga memiliki kapasitas berkreasi dan berimajinasi. Salah satu ungkapan imajinasi dan jembatan bagi mengalirnya imajinasi lebih jauh adalah penggunaan simbol-simbol. Yang dimaksud dengan simbol bisa gambar, lukisan, ukiran, bahkan konsep dalam bentuk kata. Dalam kalangan Protestan awalnya terjadi penolakan yang sangat radikal dan ekstrim terhadap segala macam pemakaian simbol. Kecenderungan demikian dapat dimaklumi sebagai reaksi terhadap penyelewengan penggunaan simbol yang bernafaskan penyembahan berhala. Mengapa simbol merosot menjadi berhala? Karena simbol diperlakukan sebagai tujuan  akhir, sementara imajinasi di baliknya tidak lagi dialami dan dihayati selanjutnya.

Dengan imajinasi kita mampu melihat makna dari sesuatu baik yang ada di dalam sesuatu itu atau yang hanya terkesankan oleh hati kita. Adanya imajinasi itulah membuat kita mengkonstruksikan bentuk, pola dan makna dalam kaitan dengan sesuatu yang kita lihat. Misalnya, dengan benda seperti lilin, kunci, batu, atau ciptaan seperti lukisan, ukiran, dlsb. Imajinasi juga memampukan kita mengaitkan dan mengembangkan perasaan dan  gambaran yang tidak terdapat dalam kekinian tetapi terdapat dalam masa lampau lalu kita bangkitkan kembali keberadaannya dalam kenangan, impian atau kisah. Dalam Kekristenan penggunaan simbol itu memuncak antara lain dalam bentuk sakramen. Simbol-simbol yang bukan sakramen pun (bukan air baptisan atau roti-anggur perjamuan kudus) dapat mengandung muatan sakramental disebabkan adanya operasi imajinasi teologis kita. Di sinilah letak perbedaan pemahaman simbol antara meditasi Kristen dengan meditasi mistis Timur. Simbol tidak efektif dalam dirinya sendiri (pemahaman mistis) tetapi pada objek imajinasi iman sesungguhnya yaitu Tuhan Allah yang memakai dan hadir melalui simbol itu atau lebih tepat yang menguduskan simbol dan menguduskan imajinasi kita agar akhirnya kita bersekutu dengan diri-Nya sendiri.

Apabila kita takut tergelincir sampai menggunakan simbol dengan pemahaman seperti penyembahan berhala, maka takut itu wajar dan perlu! Namun jangan takut salah membuat kita sama sekali tidak membuka kesempatan bagi Allah menguduskan imajinasi kita berkembang dalam suasana dan arah yang benar. Alkitab sendiri memaparkan contoh nyata bagaimana Allah memakai imajinasi hamba-hamba-Nya untuk menjadi kendaraan bagi penyataan profetis. Yeremia belajar tentang kedaulatan Allah dan tanggungjawab manusia di bengkel kerja penjunan. Yehezkiel mendramatisir kepungan yang akan terjadi atas Yerusalem dengan tindakan dramatisnya yang pasti berbicara lantang pada orang zaman itu. Bahkan Yesaya ketika diminta Tuhan berjalan telanjang memakai imajinasi yang membuat dia dekat dengan dianggap sebagai orang gila untuk menelanjangi betapa parahnya akibat dari hukuman pembuangan yang akan Allah kirimkan kepada Israel. Tuhan Yesus sendiri pun berulang kali memakai imajinasi yang amat kaya dan beragam. Tindakan-Nya menulis di tanah ketika menghadapi para ahli taurat yang hendak menyudutkan Dia dengan kasus perempuan yang berzinah, perumpamaan-perumpamaan-Nya, julukan-julukan yang Ia pakai untuk menyatakan siapa diri-Nya, semua bersifat sangat imajinatif.

Selain benda dan lukisan yang sebagian kita sudah cukup akrab menggunakannya untuk doa dan saat teduh, lukisan icon dari gereja orthodox Timur sebenarnya sangat bermuatkan imajinasi teologis yang berdampak. Apabila Anda merenungkan icon 3 tamu Abraham di Mamre lukisan Rubleiv, Anda akan sadar bahwa kita harus mulai dari sosok kanan yang mewakili Roh Kudus yang dengan warna jubah, postur tubuh, tatapan mata membimbing kita menatap ke tokoh di tengah yang mewakili Yesus Kristus yang pada gilir berikutnya melalui postur tubuh, arah mata, arah jari, warna jubah yang dikenakan akhirnya membuat kita menatap kepada tokoh di paling kiri yang mewakili Allah Bapa. Icon ini memandu kita untuk merenungkan keindahan Tritunggal melalui jalur soteriologis atau bisa juga merayakan keindahan keselamatan (soteriologis) dalam kerangka trinitarian.

Rangkuman praktis

  • Sikap & pengambilan keputusan

Jika Anda selama ini belum memiliki disiplin rohani seperti berdoa dan bersaat teduh teratur, ambillah keputusan untuk memupuk disiplin tersebut. Ingatlah bahwa disiplin kerohanian bukan suatu pilihan mewah yang hanya berlaku bagi segelintir pengerja gereja atau rohaniwan. Ingatlah juga bahwa Allah yang hangat dengan kasih dan kaya dengan kehendak baik sudah menunggu Anda memberi respon setimpal kepada-Nya. Sadari juga bahwa Ia yang menginginkan waktu dan sambutan terbuka Anda kepada-Nya adalah yang akan memampukan Anda membangun dan memelihara terus sikap responsif terbuka itu.

  • Kehadiran

Allah telah menjanjikan kehadiran-Nya. Entah Anda merasakan atau tidak, kehadiran-Nya adalah fakta yang merupakan hak untuk kita alami sebagai akibat dari kita telah diperdamaikan oleh Yesus Kristus. Jika Anda belum menerima Yesus Kristus, Ia tetap juga hadir sebab Ia adalah Allah yang Maha hadir, namun berkat kehadiran-Nya tidak kita alami sebelum kita menerima uluran tangan Kristus untuk memperbarui hidup kita. Masuklah ke dalam persekutuan sejati dengan Allah dengan menerima Yesus Kristus memasuki kehidupan Anda. Kehadiran kita pun suatu syarat mutlak. Kita perlu berhenti berlarian dengan segala alasan dan kesibukan, lalu hadir di hadapan-Nya, membuka diri pada panggilan-Nya. Hal itu kita nyatakan dengan menyediakan ruang dan waktu bagi Dia dalam irama hidup kita sehari-hari.

  • Penyiapan diri

Awali disiplin rohani Anda dengan lebih dulu menyiapkan keseluruhan diri Anda roh dan tubuh agar segar, rindu, damai, antisipatif kepada Allah. Regangkan otot-otot yang kaku dengan teknik relaxasi. Arahkan hati ke hadirat-Nya dengan secara imajinatif dan jasmani menengadah, bertelut, bernyanyi, menyeru nama-Nya. Tingkatkan indra jasmani dan melalui imajinasi batin juga indra rohani Anda agar Anda dalam kondisi menatap, dengar-dengaran, mendekat, “mencium” suasana aroma ilahi. Kenanglah dan syukuri sifat-sifat-Nya dan karya-karya-Nya yang telah Ia nyatakan dalam Alkitab dan menyentuh nyata kehidupan Anda.

  • Komune

Meditasi Kristen bukan pengosongan diri bukan juga peleburan diri dengan yang ilahi. Meditasi adalah memfokuskan keberadaan kita sepenuhnya kepada Allah yaitu Allah yang telah menyatakan diri dalam firman-Nya, Alkitab. Bacalah bagian firman Tuhan – sebaiknya dengan mengikuti daftar bacaan Alkitab yang teratur seperti yang PPA terbitkan – dengan menggunakan metode pengalian baca-gali Alkitab. Masih dalam suasana sadar akan kehadiran Roh-Nya yang siap berbicara memimpin perenungan Alkitab Anda, setelah menemukan fakta-fakta teks, arti yang Tuhan nyatakan untuk pembaca pertama teks, mintalah Roh Allah mencerahkan mata hati dan membukakan telinga hati Anda untuk menangkap apa yang lebih pribadi lagi dari arti teks itu bagi kehidupan Anda saat ini. Dengarkan dan dengar-dengaranlah! Bayangkan! Ulang-ulang kata, kalimat, ide, makna apa saja yang Anda dapat temukan dalam teks itu. Gumamkan makna tersebut. Lagukan! Renung-renungkan! Buat firman itu menjadi bersifat pribadi dengan mengaitkan nama Anda ke dalamnya. Endapkan, gantungkan, ukirkan di benak Anda. Lakukan apa saja tetapi tidak semata dengan potensi dan kapasitas Anda melainkan sambil terus peka kepada pertolongan Roh Kudus. Terbukalah kepada apa yang Ia sampaikan dari dalam teks Alkitab atau dari luar namun melalui teks itu ke hidup Anda: pelajaran, hiburan, janji, teguran, perintah, teladan. Jadikan doa menjadi nafas Anda, nafas menjadi doa Anda sambil Anda terus berdiam dalam hadirat-Nya dan firman-Nya demikian.

  • Kerajaan-Nya & Dunia-Nya

Tidak terasa Anda mungkin sudah menikmati secercah kekekalan dalam belasan atau beberapa puluh menit disiplin rohani yang meditatif tadi. Ia ingin agar kita merayakan Dia dalam dunia-Nya dan berbagi Ia dengan dunia-Nya. Ijinkan Roh Kudus memeteraikan hal, kesan, prinsip, suasana, imaji apa saja yang Ia ingin Anda kenang sepanjang hari itu dan alami realitanya lebih luas dalam dunia luas. Ungkapkan syukur, permohonan, syafaat Anda di sekitar pokok yang telah Ia nyatakan kepada Anda sebelumnya. Masuki dunia bukan dengan meninggalkan Allah tetapi dengan berjalan bersama-Nya sehari itu! “Masukkan akalmu ke dalam hatimu lalu hiduplah di dalam hadirat Allah sepanjang hari itu.”

     

Diagram ringkas proses & unsur meditasi

Tingkat / Unsur

Tubuh

Hati / Roh

Simbol / Alat

 

 

 

 

Persiapan

  • Tempat & Waktu
  • Relaxasi, nafas
  • Musik
  • Berbagai Postur Tubuh
  • Syukur
  • Fokuskan hati kepada Tuhan
  • Imajinasi
  • Memori
  • Hening
  • Meja, kursi, hiasan
  • Lilin, bunga, salib, lukisan, buku pujian

Komune:

  • Analitis

 

  • Sintesis
  • Mistis
  • Baca, pikir, renungkan teks Alkitab

 

  • Indra-indra aktif
  • Nafas dalam
  • Visualisasi

 

  • Pasrah pada Roh Kudus

 

  • Persekutuan Iman, Harap, Kasih
  • Alkitab, Kamus Alkitab
  • Gambaran2 dalam Alkitab
  • Konsep2 alkitabiah / teologis
  • Benda / peristiwa apa saja

Missi

  • Postur tubuh
  •  
  • Tunduk pada kehendak-Nya
  •  
  • Seluruh aspek hidup dan kejadian dalam dunia ini
  •  

 

Kepustakaan:

Bunting, Ian. Editor. Closer to God. Practical help on your spiritual journey. (London, Scripture Union, 1995)
Hallesby . Prayer. Minneapolis: Augsburg Publishing House, 1965)
Huggett, Joyce. The Joy of Listening to God. Hearing the Many Ways God Speaks to Us. (Downers Grove: IVP, 1986)
Open to God. Deepening Your Devotional Life. (Downers grove: IVP, 1989)
Miller, Calvin. The Table of Inwardness. (Downers Grove: IVP, 1984)
Mulholland, M. Robert. Invitation to A Journey. A Road Map for Spiritual Formation (Downers Grove: IVP, 1993)