Akhir-akhir ini kebijakan pemerintah untuk memberikan kompensasi kenaikan BBM kepada masyarakat yang dianggap miskin telah membangkitkan berbagai reaksi tajam. Di satu pihak banyak kritik dilontarkan terhadap keabsahan ukuran menentukan siapa yang layak menerima. Di pihak lain kritik lebih tajam mempertanyakan kebijakan membantu itu sendiri dan menganggapnya sebagai suatu ketidakbijakan, merendahkan orang ke taraf pengemis, tidak mendidik, membuka peluang bagi penyimpangan dan makin melumpuhkan ekonomi bangsa kita.
Di samping polemik yang muncul tersebut, akhir tahun dengan fokus perhatian kita pada adven Yesus Kristus dan tradisi memberi-menerima seiring dengan suasana Natal, membuat tema ini tepat untuk kita renungkan secara mendalam. Tidak ada keyakinan iman yang sedemikian gamblang memaparkan dan menganjurkan soal memberi-menerima ini seperti di dalam iman Kristen. Namun, – meski PL dan PB tidak kurang-kurang memberikan peraturan dan contoh-contoh konkrit tentang hal memberi-menerima – masih saja terjadi banyak kesalahan pemahaman dan tindakan.
Anda mungkin sedikit merasa terganjal dengan penggunaan istilah memberi-menerima yang saya gunakan tadi. Mengapa tidak terus terang langsung saja bicara soal memberi bila ujung-ujungnya artikel ini bertujuan mendesak pembaca untuk memberi dukungan konkrit, demikian mungkin Anda membatin bukan? Justru saya memilih penggabungan dua istilah bertolak belakang tadi untuk menegaskan bahwa keduanya tidak terpisahkan dan harus demikian juga dalam kehidupan Kristen kita. Kebanyakan kesalahan pemahaman dan tindakan dalam hal memberi disebabkan karena orang hanya menggumuli soal memberi – memberi berapa banyak, memberi untuk apa, memberi karena apa, memberi dengan tujuan apa – tanpa cukup penghayatan tentang menerima dan hubungan memberi dengan menerima.
Karena itu, jangan dulu Anda berpraduga bahwa yang saya maksudkan dengan masalah dalam memberi adalah kesulitan memberi atau kecenderungan memberi dalam sikap kikir yang sering-sering kita alami. Dalam catatan Alkitab, tindakan memberi yang digarisbawahi justru adalah pemberian jatah makanan terakhir janda di Sarfat (1Rj. 7:17-24), persembahan janda yang hanya setara gaji 2 jam kerja uang terakhir seorang janda yang dipuji Tuhan Yesus (Mrk. 12:41-44). Selain itu, nyata dalam Alkitab bahwa Allah tidak pernah terkesan oleh banyaknya pemberian yang orang berikan sebab sesungguhnya Ia tidak memerlukan pemberian apa pun dari siapa pun. Allah tidak memerlukan niat baik Daud atau Salomo untuk membuatkan bagi-Nya Bait Allah. Allah tidak memerlukan apa pun dari tenaga, harta, perbuatan kita baik untuk diri-Nya maupun untuk membuat kita beroleh sesuatu dari Dia untuk diri kita. Dalam diri-Nya, Allah cukup. Ia memiliki persekutuan kasih sempurna sebagai Tritunggal, Ia sumber yang mengadakan keberadaan dan menghidupi semuanya sehingga seluruh realita sebenarnya ada dan berlangsung terus karena Ia memberi dan memberi tak berkeputusan. Menurut ucapan indah votum dalam ibadah di hari Minggu, Ia adalah Pencipta langit dan bumi dengan segenap isinya yang tidak meninggalkan karya cipta-Nya melainkan menopang semuanya dengan setia. Ia juga tidak memerlukan apa pun dari kita agar kita beroleh perkenan, pengampunan, keselamatan, pemeliharaan dlsb. Ia yang memberikan anugerah dalam hidup dan karya penyelamatan Putra Tunggal-Nya agar kita menerima keselamatan, persekutuan, pemeliharaan, kebermaknaan hidup, karunia-karunia untuk menjadi berkat bagi sesama dan agar kita mampu melayani Dia dengan baik, dan agar kita dapat memberi. Dari awal sampai akhir hidup kita sebagai manusia dan fakta kehidupan Kristen kita boleh berlangsung semata karena anugerah Allah.
Maka yang perlu kita soroti terutama bukan bagaimana meningkatkan ujud pemberian kita tetapi memeriksa sedalam-dalamnya apakah alasan kita memberi serasi dengan fakta kebenaran teologis tersebut. Kita perlu menyadari bahwa setiap tindakan memberi kita pada hakikatnya sama seperti yang pernah saya alami dengan anak-anak saya. Sewaktu mereka masih kecil mereka meminta uang kepada saya supaya mereka bisa memberi hadiah ulang tahun untuk saya. Kita memberi bukan supaya kita menerima apa yang kita inginkan dari Allah, tetapi karena kita sudah menerima anugerah dan karunia pelayanan yang memampukan kita untuk memberi dan melayani. Atau, Allah memberi bukan sebagai balasan dari apa yang kita berikan kepada-Nya, sebaliknya sebagai tindakan yang mendahului kita dengan tujuan membuat kita mampu memberi. Jika kita sungguh menyadari terus menerus bahwa kita boleh hidup, bekerja, bernafas, memiliki segala yang kita nikmati dalam kehidupan, beribadah, mereguk nafas segar keselamatan semata karena kita menerima secara gratis semua gracia Allah, maka sepantasnya kita mengubah beberapa kebiasaan memberi seperti contoh-contoh berikut.
Pertama, soal motivasi. Maleakhi memang menantang orang yang tidak tahu bersyukur kepada Allah agar memberikan perpuluhan mereka dan membuktikan sendiri bahwa Allah mampu mencurahkan berkat bagaikan hujan deras (Mal. 3:10). Tetapi benarkah bahwa kita memberikan perpuluhan demi untuk memancing berkat-berkat Tuhan berikutnya? Sedang berdagangkah kita dengan Tuhan melalui motivasi kita memberikan perpuluhan? Kedua, soal sikap. Bila kita jujur semua kita sering merasa berat untuk memberi. Memberi kita nilai sebagai pengorbanan, sehingga sikap kita memberi seringkali terpaksa dan merasa berat. Firman Allah selalu memaparkan sikap kebalikannya, yaitu kita sepatutnya adalah bersukacita dan bersyukur boleh memberi. Sebenarnya pemberian apapun bukan pengorbanan sebab kita hanya penatalayan bukan pemilik. Kita justru diberi kepercayaan lebih berharga melalui kesempatan memberi apa yang telah Allah anugerahkan melalui kita. Dengan memberi kita sedang diubah Allah dari penerima pemberian menjadi pemberian Allah itu sendiri. Ketiga, karena yang kita berikan bukan milik kita tetapi milik Tuhan, tidak boleh kita jadikan cara untuk kita membanding-bandingkan diri dengan orang lain dan pemberian mereka. Kritik Yesus terhadap persembahan mereka yang memberi banyak dibanding janda miskin itu menunjukkan bahwa satu-satunya ukuran dan nilai dari pemberian kita adalah apakah kita menyadari sepenuhnya bahwa seutuh hidup kita dan segenap karya hidup kita tergantung penuh pada anugerah-Nya. Yang membuat persembahan janda itu berkenan bukanlah karena sedikitnya (atau yang membuat Tuhan mengritik persembahan mereka yang mampu juga bukan karena jumlahnya yang tidak sepenuhnya banyak) tetapi faktor ada tidaknya penghayatan bahwa segenap hidup ada di tangan Tuhan. Keempat, jika segenap hidup ini adalah anugerah termasuk segala kesempatan memberi dan berkarya, kadar pemberian kita seharusnya sekuat, seberani dan serasi kekuatan serta kedahsyatan pemberian Allah sendiri. Bahkan orang majus yang belum terlalu jelas tahu tentang karunia Allah yang baru berinkarnasi itu saja pun mampu memberi pencarian dan persembahan seindah itu, bagaimana tidak kita pun?
Hal yang perlu kita periksa dengan jujur adalah di sekitar soal kemurnian motivasi kita dalam memberi dan kesesuaian tindakan memberi kita dengan pemberian Allah yang sudah memungkinkan kita untuk memberi. Jadi inti terdalam masalah orang Kristen dalam hal memberi, dapat dipastikan hanya satu. Entah ia belum pernah menerima apa pun dari Allah (mungkinkah itu?) atau ia tidak menyadari besar-ajaibnya hal-hal yang telah ia terima sepanjang hidupnya dari Allah. Inti dari masalah sulitnya seseorang memberi adalah karena ia belum mengalami anugerah terbesar Allah dalam hidupnya atau ia tidak terus menghayati dan hidup dalam anugerah Allah. Persoalan dalam memberi disebabkan oleh persoalan ketidakjelasan dalam hal menerima atau ketidaksegaran dalam menghayati fakta bahwa kita hidup dari menerima dan menerima.
Grace and grace alone, demikian mengutip lagu indah yang mengandung kebenaran sangat dalam itu. Menerima anugerah Allah dan terus menyadari betapa anugerah-Nya terus menyelamatkan, menguduskan, memelihara, mencukupkan, membuat kita berkeinginan untuk memberi. Bahkan dalam penghayatan teologis bahwa dari awal sampai akhir segenap isi kehidupan Kristen kita disebabkan oleh anugerah semata, maka bersedia dan mampu memberi pun adalah karena kita telah menerima anugerah yang memampukan kita demikian. Bagaikan pohon yang berakar dalam mengeluarkan buah-buah lebat, demikian pun kehidupan yang menerima anugerah Allah dengan limpah akan secara wajar mengeluarkan buah-buah tindakan memberi. Menerima grace akan membuat kehidupan kita menjadi grateful atau gracious (indah dan penuh dengan syukur).






