(Matius 6:19-34)
Pendahuluan:
- Matius 5-7 dijuduli “Khotbah di Bukit.” Judul ini hanya mengacu kepada tempat Tuhan Yesus menyampaikan ajaran-ajaran-Nya tetapi tidak menyiratkan tentang isi dan kepentingan khotbah tersebut. Lebih pas bila diberi judul: “UUD Kerajaan Allah,” “Hukum-hukum Perjanjian Baru,” “Prinsip hidup dalam anugerah,” “Karakteristik para murid Kristus.”
- Sikap Tuhan Yesus, isi khotbah-Nya dll. menunjuk bahwa Ia sedang menempatkan diri dalam status lebih tinggi daripada Musa. Ia sedang menyiapkan suatu umat PB, seperti Musa bicara di atas bukit, isi ajaran-Nya mengacu, memperdalam semua ajaran 10 hukum Musa bahkan menundukkan Musa ke bawah posisi-Nya.
- Khusus bagian tentang materi ini sangat penting dan relevan untuk kita kini agar fokus kita dalam pertumbuhan rohani benar, tidak salah konsep, tidak terbelit oleh daya tarik keduniawian, juga tidak salah upaya melawan keliru konsep tentang keduniawian.
Penting menentukan komitmen:
- Menerima Yesus bukan saja menerima penyelamatan dari hukuman terhadap dosa tetapi menerima penyelamatan utuh dari semua pola hidup yang tidak terfokus tunduk penuh kepada Allah. Kata lain: menerima pemerintahan Allah melalui Yesus atas segenap hidup kita.
- Yesus dalam khotbah ini menuntut para murid-Nya yaitu termasuk kita agar ambil komitmen dalam penempatan prioritas dan arti harta, kebutuhan material, dlsb. Memutuskan menjadi pengikut Yesus berimplikasi ke semua komitmen atau tuan-tuan lain dalam hidup kita, termasuk tuan mamon. Bila kita tidk menentukan komitmen yang benr terhadap harta, akan terjadi akibat-akibat buruk.
Akibat buruk materialisme:
- Materialisme menyebabkan orang Kristen salah prioritas (19-20, 21). Kristen seharusnya dapat membedakan antara yang kekal dan yang sementara, yang hakiki dan yang penunjang, yang kekal dan yang bisa rusak, hilang, sementara sifatnya. Yesus menegaskan agar para pengikut-Nya tidak menambatkan hati yang diuntukkan bagi Dia dan kekekalan kepada harta tidak kekal. Materialisme membuat kita salah prioritas antara surga dan dunia, Allah dan ciptaan.
- Materialisme menyebabkan orang salah penilaian. Pada gilir berikutnya, secara langsung materialisme membuat visi hidup kita menjadi rusak (22-23). Tuhan Yesus memperingatkan bahaya fatal yang diakibatkn oleh materialisme ke dalam hidup. Betapa gelap hidup yang mata hatinya buta. Orang sedemikian akan mengalami disorientasi. Sikapnya akan menjauhi Allah.
- Kenyataan hidup mengatkan bahwa kita tidak dapat mengabdi dua tuan. Pada hakikatnya manusia butuh hanya satu tuan; paa intinya tuan mana pun – baik yang sejati maupun yang palsu – akan menuntut agar yang mempertuan dia akan memberi pertuanan mutlak. Materialisme tidak dapat bersanding dengan Ke-Tuhanan Kristus. Begitu harta diberi kedudukan tuan, ia akan melunjak dari seharusnya pada posisi hamba, ke posisi tuan (24). Dan ia akan menjadikan kata hambanya; ia sendiri adalah tuan yang kejam.
- Materialisme akan meruak dan membuat hidup menjadi menyedihkan. Orang kan kehilangan kesukaan hidup. menurut Tuhan Yesus, orang itu pada hakikatnya seperti orang yang tidak kenal Tuhan – alias kafir – di hadapan Tuhan, dan dalam kenyataan dirinya.
Inti dan bentuk-bentuk Materialisme masa kini:
- Materialisme:
“Matter is all that matters.”
- “I am what I own.”
- My identity is measured by my possession
- Awal materialisme: Democritus dari Abdera (5SK) menganggap dunia ini seluruhnya terdiri dari atom-atom yang kecil, tak terbagi, padat, keras, tak tertembusi, dasar terdalam dunia ini. Materialisme memikirkan apa komposisi dunia ini; naturalisme memikirkan apa yang ada dalam kenyataan dunia ini. Implikasi dari pandangan metafisik materialisme adalah ke sistem nilai yang karena menganggap kenyataan hidup hanya benda, maka tujuan hidup adalah mengejar kenikmaan fisik. Jadi materialisme sejajar dengan hedonisme.
- Berbagai wajah materialisme kini:
- Iklan2 TV dalam 2 jam per hari antara 40-125 x 365 = 15000 – 45000/tahun. Dampaknya pada anak2, remaja, dan kita semua? Materialisme adalah nilai budaya dominan masa kini. “Firman” Materialisme adalah: beli, miliki! Kita menjadi makluk konsumer bukan lagi makhluk berpikir, makhluk beragama, makhluk berkomunikasi.
- Cara materialisme menaklukkan hati kita sangat halus dan licin. Ia bisa masuk melalui kebutuhan2 wajar kita: paket standar kebutuhan. Misalnya: rumah berkamar dua-tiga, bergarasi, perlengkapan: kulkas, mesin cuci, micro-wave, ac, dlsb. Ukuran itu meningkat terus. Dari keinginan jadi kebutuhan, dari kebutuhan jadi keharusan. Akhirnya materialisme membuat kita mengabdi kepada ukuran2 standar kebutuhan, kenikmatan, dll. itu.
- Materialisme tanpa kita sadari sudah menyusup juga ke dalam gereja. Khotbah2 yang mendefinisikan berkat sebagai kekayaan, kesehatan, semakin meluas dan semakin diminati. Meski Alkitab dan para bapak gereja sudah memberi peringatan keras, namun tetap saja makin banyak warga gereja terpengaruh materialisme dalam gereja.
- Masalah terbahaya dari materialisme adalah kita dibutakan tentang aspek atau sifat spiritual dari realita. Materialisme membuat kita terbelenggu dengan sisi materi dari kehidupan. Semua waktu, tenaga, pikiran kita terfokuskan pada aspek2 fisik hidup ini. Akibatnya pemahaman dan penghayatan kita tentang hidup menjadi datar, bahkan ukuran2 materialistik kita pakai untuk mengukur spiritualitas.
- Dua kutub berbeda dari Materialisme dalam teologi gereja. Kutub yang satu: teologi kemakmuran. Kutub yang lain teologi kemiskinan. Keduanya mengukur spiritualitas dengan materi, keduanya bernafaskan materialisme. Yang benar adalah: kita harus memperTuhan Yesus baik di surga maupun di bumi; baik atas sisi spiritual maupun sisi material kita. Ini tidak mudah dan bercirikan ketegangan, tetapi itulah realita.
Bagaimana Prinsip Hidup yang Tuhan Yesus ajarkan?
- Yesus ingin kita menghargai bahwa hidup ini lebih daripada sekadar pemenuhan kebutuhan hidup (25b). kita perlu belajar mengingatkan diri bahwa hidup ini jauh lebih luas, dalam, panjang – yaitu berdimensi kekal. Ketajaman iman yang ingin dihancurkan materialisme harus kita lawan dengan iman aktif.
- Tuhan Yesus menganjurkan kita belajar tentang kebaikan dan kesetiaan kebapaan Allah (32b), salah satunya dengan jalan melihat itu melalui alam. Alam selain bisa menjadi kitab kedua sesudah kitab suci melalui mana kita mendengar sabda Allah, juga bisa memberi kita teladan tentang kesahajaan ketergantungan pada kasih Allah.
- Dahulukan takhtakan Allah di atas segala yang hanya tambahan, pelengkap, penunjang, alat (33). Kita perlu menjalani dan mempraktikkan disiplin2 rohani seperti meditasi, berdoa, puasa dalam rangka memupuk perasaan cukup, bergantung; kepekaan: discernment dan detachment.
- apabila kita berespons aktif terus terhadap anugerah Allah, kita akan bertumbuh dewasa, iman kita makin kuat dan makin riil. Materialisme akan dapat dipatahkan kekuatannya melalui prinsip ini.
Pertuhanlah Tuan sejati, perbudaklah materi. Tuhan hartaku, atau harta tuanku?






