Buku Renungan Santapan Harian
Buku Hidup Dalam Terang
Buku Karier Panggilan atau Pilihan?
Buku Renungan Anak SuperKidz
Buku Rohani Ready To Serve
Buku Rohani Authority to Heal

Pengunjung

  • Site Counter: 48694
  • Unique Visitor: 10862

Reformasi

Martin Luther, sang imam tak dikenal dari sebuah perguruan kecil di kota Wittenberg yang terpencil, tanpa disangka telah dipakai Tuhan membelokkan arah sejarah gereja dan dunia. Itu terjadi 468 tahun lalu, tepatnya 31 Oktober 1517. Sebenarnya Luther tidak sendirian. Sebelum dan sesudah dia, Tuhan telah membangkitkan lusinan tokoh-tokoh pembaruan lain yang bersama melahirkan gerakan protestantisme atau Reformasi.

Reformasi adalah jawab Tuhan atas keadaan gereja dan dunia saat itu. Zaman menjelang reformasi ditandai oleh berbagai keresahan. Oleh maut hitam, yaitu wabah yang melanda Eropa sekitar tiga abad lamanya. Oleh pergeseran kekuatan politik. Oleh tantangan yang dibawa oleh semangat penemuan (Bartholomeus, Vasco da Ga, Colombus), semangat Renaissance dan kemajuan ilmu serta teknologi, terutama oleh penemuan cetak mencetak Gutenberg. Ketika dunia resah, gereja justru lumpuh. Bahkan doktrin serta moral gereja sendiri menyimpang.

Luther adalah tipe pencari kebenaran. Pergumulannya pribadi mencerminkan kelumpuhan gereja. Penemuannya pun bukan sekadar masalah pribadi. Nyatalah bahwa gereja lumpuh karena tidak lagi menawarkan Injil pada dunia, tetapi semata upaya moral manusia atau bahkan spekulasi manusia tentang Allah. Luther menekankan tentang kuasa yang benar, harta yang benar, agama yang benar, semuanya berkisar pada Injil anugerah Yesus Kristus saja. Jelaslah hubungan logis antara doktrin dan etika, antara ajaran dan kelakuan. Melalui ke-95 dalilnya, Luther sebenarnya tidak menyampaikan sesuatu yang baru. Dia hanya mengulang kembali kebenaran yang sama. Anugerah saja. Iman saja. Alkitab saja. Dan keimaman setiap orang percaya.

Mengapa Reformasi kemudian menjadi suatu gerakan sedunia? Mungkin karena waktunya tepat. Mungkin pula karena pengaruh kotbah dan tulisan yang sistematis dilancarkan oleh tokoh-tokoh Reformasi. Terutama juga karena penerjemahan Alkitab memungkinkan warga berhadapan objektif dengan sumber kebenaran. Yang jelas, ketika kuasa Tuhan dinyatakan, ketika kebenaran Firman Tuhan ditegakkan, ketika ke-Tuhanan Kristus diberlakukan, ketika umat bertindak taat, terjadilah sesuatu yang dahsyat dan membekas.

Situasi dunia kini pun mirip, bahkan jauh lebih meresahkan dibandingkan zaman ketika Reformasi lahir. Situasi dalam gereja pun, mendorong kita memeriksa diri ulang. Apa rahasia kegerejaan kita? Calvin berujar: “Di mana firman Allah diberitakan dan disimak, sakramen dilayani sesuai yang ditetapkan Kristus, tidak pelak lagi di sanalah gereja Allah yang sejati!