“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus” (1Korintus 12.12)
“Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1Kor. 12.27)
Di antara begitu banyak gambaran Alkitab tentang Gereja, gambaran “tubuh” adalah yang sangat penting dan indah tentang jatidiri dan fungsi Gereja. Dengan menyebut Gereja sebagai Tubuh Kristus, Paulus kemungkinan besar sedang merefleksi wujud konkrit dari doa Tuhan Yesus agar seluruh umat-Nya bersatu di dalam Dia, sama seperti kesatuan yang terdapat dalam keesaan Allah Tritunggal sendiri (doa Yesus dalam Yoh. 17), sampai berdampak nyata dalam missi Gereja terhadap dunia. Apabila seluruh umat Kristen bersatu di bawah kepemimpinan Kristus dan berfungsi sebagai manifestasi kehadiran-Nya untuk dunia, maka Gereja akan menjadi peragaan kemuliaan Allah teramat dahsyat (Efs. 1.22-23; 3.10). Namun harus kita akui bahwa dalam pemahaman dan penghayatan nyata bergereja, gambaran ini paling sering tercabik. Sebaliknya dari keesaan dalam keragaman, kita menyaksikan persaingan dan konflik. Berlawanan dari menjadi ungkapan kehadiran dan pemerintahan Kristus atas segala sesuatu melalui Gereja, kita menyaksikan gereja yang mengarah ke pembangunan kerajaan-kerajaan kecil yang justru mengaburkan keagungan Kerajaan Kristus.
Apa penyebab kegagalan tersebut? Bisa jadi pemahaman dan penghayatan kita tentang Gereja sebagai Tubuh Kristus sebanding dengan ketidakkonsistenan kita terhadap tubuh kita sendiri. Bukankah kita selalu serba salah dalam memahami dan menghayati tubuh ini? Di satu pihak, gaya hidup modern dan posmodern yang semakin bebas, mendorong kita menerima kebertubuhan kita dengan lebih terbuka, meski ada kecenderungan negatif ke perayaan tubuh secara hedonistis. Di lain pihak, pengaruh religius pada kebanyakan budaya mana pun, tubuh selalu dipahami dan dihayati secara negatif. Tubuh selalu ditempatkan lebih rendah daripada jiwa, atau malah tubuh dianggap sebagai akar dosa. Jangan-jangan kekeliruan memandang tentang tubuh jasmani kita ini terungkap pula dalam sikap tidak tepat yang ktia tunjukkan baik dalam bergereja secara lokal, maupun terhadap sesama gereja lain dalam lingkup yang universal.
Tetapi tidak demikian cara pandang Alkitab PL maupun PB tentang tubuh. Tubuh bukan produk si jahat, apalagi produk cacat dari Allah yang keliru dalam proses mencipta. Manusia tidak lain tidak bukan adalah tubuh-roh adanya. Jiwa tanpa tubuh adalah sesuatu yang telanjang dan setengah riil; tubuh tanpa jiwa adalah bangkai. Keduanya adalah dua dimensi dari satu pribadi yang utuh – yang satu mengarah ke dalam yang lain mengarah ke luar. Itu sebabnya etika Kristen beda tajam dari etika yang hanya mengutamakan batin. Dalam etika Kristen dosa-dosa yang dilakukan oleh tubuh adalah pancaran dari kondisi kelam hati atau roh yang terbelenggu dosa. Dalam etika Kristen tidak mungkin mempertahankan pandangan bahwa kerohanian dapat terjadi tanpa ungkapan serasi dalam tindakan2 murni tubuh juga. Tubuh hanya ungkapan keluar dari kondisi yang terdapat di dalam. Serasi dengan itu, pelayanan dan ibadah pun adalah sesuatu yang terjadi dalam ungkapan tubuh jasmani, tidak semata sikap hati belaka. Maka itu, kita dianjurkan untuk mempersembahkan tubuh kita (bukan semata hati atau roh) menjadi korban yang hidup, kudus, berkenan bagi Allah (Rm. 12.1). Pandangan yang sangat memuliakan tubuh ini tidak hanya didasari oleh ajaran penciptaan tetapi diberdayakan oleh fakta ajaib bahwa dalam inkarnasi-Nya, Putra Allah menjelma menjadi tubuh manusia (Yoh 1.14).
Dengan pemahaman teologis yang tepat inilah baru dapat kita pahami ungkapan mengejutkan dari Paulus tentang identifikasi Kristus dengan Gereja. Tidakkah mengejutkan bahwa sesudah mengungkapkan kesatuan dan kejamakan dalam tubuh, Paulus tidak menyebut ”demikian juga Gereja,” tetapi “demikian pula Kristus” (1Kor 12.12). Tentu tidak salah bahwa yang ia maksudkan adalah Gereja, tetapi dengan menyebut Kristuslah yang demikian, Paulus sekaligus menegaskan identifikasi Kristus dengan Gereja dan kedudukan serta fungsi Gereja seharusnya sebagai wujud kehadiran Kristus – baik dalam relasi di dalam maupun dalam relasi ke luar. Mengapa? Sebab Kristus dan komunitas orang Kristen kini diumpamakan sebagai organisme tubuh manusia. Sebagaimana Alkitab mengerti roh dan tubuh menyatu, dan hanya dalam ungkapan tubuh, roh menyatakan eksistensinya, demikian pun Kristus mengungkapkan pemerintahan dan karya-Nya dalam ungkapan Tubuh-Nya yaitu Gereja! Sebaliknya tubuh tanpa roh adalah mati, demikian pun kemeriahan kegiatan gerejawi dan berbagai upaya organisatoris untuk mewujudkan keesaan gereja tanpa dikepalai atau dinafasi Kristus, sia-sia belaka dan hanya seumpama jasad tak berdaya dari suatu bangkai!
Jika jelas demikian, bagaimanakah fakta mulia Gereja sebagai Tubuh Kristus itu dapat terwujud dan terhayati secara konkrit oleh kita dan di mata dunia? Pertama, Tubuh Kristus itu jadi karena tubuh Yesus telah Ia relakan untuk disalibkan demi menghasilkan suatu umat oleh dan demi Ia semata. Gereja lahir sebagai suatu kesatuan dalam keragaman karena karya kematian-Nya di kayu salib. Maka tidak boleh gereja atau orang Kristen menyangkali Salib dan Kebangkitan, sebab berbuat demikian adalah fatal! Kedua, Roh Kudus menyebabkan Kristus terus menerus mendiami gereja-Nya sehingga Gereja menjadi suatu keberadaan berjiwakan Kristus. Tanpa pimpinan Roh yaitu Kristus dalam Ketuhanan-Nya, maka tidak ada kehidupan Gereja yang vital dan riil itu. Roh membangun-hidupkan dan membangun-hidupkan ulang dan ulang sepanjang sejarah Gereja! Ia yang kekal menghadirkan sifat kekal yang akian menjadi pengalaman nyata kita kelak menjadi sudah teralami kini juga. Demikian, maka Gereja menjadi kepenuhan Kristus di bumi ini kini, suatu peragaan tentang kemuliaan Allah membuat suram segala kekuatan dan kemuliaan dunia yang semu. Ketiga, dalam uraian Paulus lebih rinci tampak bahwa Kristus juga adalah Kepala dari Tubuh Kristus – Gereja-Nya itu. Kini kita memasuki aspek lain hubungan Kristus dan Gereja, bukan hanya identifikasi tetapi kepemimpinan Kristus atas gereja dan ketergantungan Gereja kepada Kristus.
Banyak lagi kekayaan teologis dapat kita temui dari pengistilahan Gereja sebagai Tubuh Kristus, tetapi pertanyaan penting kini adalah dalam kondisi bagaimanakah hal itu menjadi pengalaman riil kita masa kini? Pertama, identifikasi Kristus dengan kita itu hanya mungkin terjadi apabila akal budi, hasrat, keprihatinan, sikap nyata Kristus terhadap sesama menjadi juga praktik nyata orang per orang dalam gereja lokal kita dan gereja lokal yang satu kepada gereja lokal yang lain. Pendek kata dimana tidak ada semangat aku-isme atau kami-isme tetapi kita-isme antar sesama Kristen dari tataran lokal, sampai antar denominasi dan lembaga, di sanalah Tubuh Kristus termanifestasi kuat benderang. Demi Kristus dan untuk kepenuhan Kristus dalam serta melalui Gereja, mari kita tanggalkan dosa sektarianisme yang memandang diri sendiri dan gereja sendiri paling utama. Kedua, dimana orang per orang dan gereja lokal / denominational atau lembaga Kristen tidak merasa bahwa sendiri ia dapat menjadi Tubuh Kristus utuh, melainkan bersama berfungsi serasi sebagai Tubuh Kristus yang mewartakan Kabar Baik dan membebat luka-luka dunia, di sanalah Tubuh-Nya sedang mengungkapkan diri. Demi missi Kristus dan untuk kepenuhan ungkapan nyata karya-karya missi-Nya dalam dunia ini, mari kita bergandengan tangan saling bantu dalam berbagai bentuk pelayanan gerejawi dan missi luas dalam dunia ini. Berhentilah menjadi lone ranger atau super spiritual man.
Mari kita berhenti menggerogoti keutuhan dan kekayaan Tubuh Kristus dengan berbagai sikap dan tindakan sempit kita. Mari kita berpikir tubuh dan bertindak sebagai bagian sejati dari Tubuh yang Satu itu bersama bagian-bagian lain Tubuh itu.






