Buku Renungan Santapan Harian
Buku Hidup Dalam Terang
Buku Karier Panggilan atau Pilihan?
Buku Renungan Anak SuperKidz
Buku Rohani Ready To Serve
Buku Rohani Authority to Heal

Pengunjung

  • Site Counter: 64514
  • Unique Visitor: 13895

PASKAH Mandulkan Dosa

Selama kita hidup di dunia ini, kita tidak mungkin dapat lepas bebas dari pengaruh dan kuasa dosa.

Mengapa? Karena ada iblis, biangnya dosa.  Dan hanya di dunia ini kesempatan satu-satunya bagi iblis untuk bisnis dosa. Calon pelanggannya cuma satu, kita manusia.

Oleh karena pengaruh dosa inilah kita sering dibuat mabok, tidak mampu sadar melihat dan menjalani hidup dengan benar.

Mabok membuat kita tidak pernah dapat melihat dosa seperti Tuhan melihatnya.  Bagi Tuhan, selama dosa berkuasa atas kita manusia, maka tidak ada gunanya lagi kebenaran.  Bahkan tidak ada gunanya lagi kehidupan manusia di bumi,  karena kita manusia hanyalah budak-budak iblis , persis seperti orang kecanduan narkoba.

Mabok membuat kita tertawa padahal kita lagi meluncur ke jurang seperti yang sering dialami Tom dalam Tom & Jerry.

Kita tertawa karena nilai saham kita melejit, karena bisnis kita maju pesat, karena karir kita tinggal landas, karena tes kesehatan kita hasilnya bagus.  Dan Paskah tidak pernah masuk dalam kategori penyebab kita tertawa. Mengapa?  Karena kita mabok dosa.

Dalam kondisi mabokpun kita masih dapat merayakan Paskah, sekedar mengamini pernyataan-pernyataan Paskah seperti ‘ Kristus mati menebus dosa’ atau ‘Kebangkitan Kristus membebaskan kita dari dosa’.  Mungkin sesekali kita bersyukur ala kadarnya, tetapi arti Paskah sebenarnya sudah tidak ada dampak dan tidak tersangkut paut langsung dalam hidup kita.

Padahal, Paskah sebenarnya membuat kita bebas dari mabok dan dapat melihat hidup seperti Tuhan melihat dan menjalani hidup seperti Tuhan menjalaninya.  Kalau saja tidak ada Paskah, maka kita akan terus mabok, terbelenggu tidak mampu hidup terbebas dari dosa.

Hanya Paskah satu-satunya obat anti mabok dosa.  Hanya Paskah membuat kita sadar dan dapat melihat bahwa hidup ada resale value yang harus kita perhitungkan seperti pada waktu kita akan membeli properti atau mobil. Hanya Paskah membuat kita dapat menghargai hidup jauh lebih dari pada kita mempertahankan dosa.

Oleh karena itu Paskah bukan hari raya untuk sekedar diperingati, tetapi esensi hidup sehari-hari.  Hidup untuk Tuhan dan hidup tidak berdosa, tidak mabok.

Bagaimana kita mewujudkannya?

Pertama, yang lebih mudah adalah cerita dari Gary Anderson, profesor PL dan Alkitab Ibrani, penulis buku Sin: A History (Yale University Press).  Pada waktu Gary membaca teks Qumram, Damascus Covenant, istilah dosa yang dipakai adalah ‘debt’ atau berhutang.  Hal mana juga terdapat dalam Matius dalam doa Bapa Kami, ‘ Forgive us our debts as we forgive our debtors.’  Dalam injil Lukas istilahnya ‘forgive our sins.’  Di dalam PL, istilah dosa digambarkan bukan sebagai hutang tetapi sebagai ‘beban’.  Misalnya dalam kitab Imamat, oran g Israel memberikan beban kepada hewan dan menyuruhnya pergi sebagai lambang pelepasan dosa.  Masalahnya kalau dosa dilihat sebagai debt, hutang, maka kita tidak dapat lepas dari istilah credit.  Artinya kalau kita berbuat dosa, kita berhutang, sebaliknya kalau kita tidak berbuat dosa, kita akan memperoleh kredit di Sorga.

He who is kind to the poor lends to the Lord, and he will reward him for what he has done.”- Amsal 19:17.

Cara pertama ini paling sedikit memberikan motivasi kepada kita untuk tidak berbuat dosa karena ada reward atau hasilnya.  Mungkin evolusi pengertian tentang dosa dari PL ke PB, dari ‘beban’ menjadi ‘hutang’ memang cocok karena kita sekarang hidup dalam era investasi, sehingga kita lebih bisa memahami.

Kedua, yang lebih bernilai, adalah cerita seekor anjing dalam film ‘Hachiko, a dog’s story’ atau film aslinya ‘Hachiko Monogatari’.   Cerita mengharukan yang benar terjadi tentang kesetiaan seekor anjing jepang di kota Shibuya pada taon 1923 an.  Hachiko seekor anjing milik Prof. Hidesamuro Ueno yang begitu setia mengantar dan menjemput tuannya, setiap hari ke terminal kereta api tempat tuannya setiap hari berangkat kerja mengajar di sebuah universitas.  Bahkan setelah tuannya meninggal karena serangan jantung, selama lebih 9 taon, Hachiko tetap setia setiap hari, menunggu tuannya di depan terminal kereta api di kota Shibuya, sampai matinya.  Karena kejadian tersebut, pada taon 1935, pemahat Ando Takeshi membuat patung Hachiko dan masyarakat menjadikan tempat tersebut sebagai tempat pertemuan untuk mengikat janji setia.

Pada waktu menonton film tersebut, perasaan haru meledak khususnya pada waktu melihat Hachiko yang sudah tua, dimakan usia dan kesedihan, berjalan tertatih-tatih, melawan sengatan dinginnya udara musim dingin, setiap sore menuju terminal kereta api dan duduk di depan pintu gerbang menunggu tuannya dengan penuh harap dia masih bisa melihat tuannya muncul di pintu gerbang terminal.  Mengapa seekor anjing dapat begitu setia?  Mungkin Tuhan menitipkan kesetiaan pada seekor anjing agar kita manusia sadar, ‘kalau anjing saja setia, bagaimana mungkin kita manusia tidak dapat setia’.  Kesetiaan untuk tidak berbuat dosa.  Kesetiaan sejati seperti yang Tuhan Yesus contohkan dalam Paskah adalah kesetiaan yang sangat berat resiko yang harus ditanggungNya.  Khususnya kalau kita mengingat salah satu perkataanNya di atas kayu salib, ‘AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’

Bagaimana mungkin Allah saling meninggalkan? Allah yang sejatinya hang out with Himself, selalu saling berelasi dalam ikatan kasih.  Dan kata tanya ‘mengapa’ sepertinya menyiratkan bahwa Tuhan Yesus tidak membayangkan akan mengalami tragedi sangat mencekam dan menyakitkan tersebut.  Sungguh sangat tragis dan memilukan apa yang dialami oleh Tuhan Yesus.

Semua itu, Paskah, Tuhan Yesus bersedia mengalaminya hanya supaya kita tidak mati binasa selamanya.  Masalahnya tinggal, bagaimana kita seharusnya menanggapi hal ini?  Take it for granted atau kita sadar dari kemabokan hidup, bersyukur dan kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, juru selamat kita.  Selamat Paskah. (bachtiar chandra,  27.03.10)