KUASA KEBANGKITAN KRISTUS MEMAMPUKAN KITA UNTUK MEMBERDAYAKAN KAUM MUDA
Filipi 3:4-11
Oleh Pdt. Samuel Lie
Menyaksikan kisah kehidupan para teroris di sebuah Televisi Swasta tahun yang lalu, sangat mencekam dan menakutkan. Bagaimana mereka merekrut generasi muda, wanita, bahkan anak remaja untuk berani mati dengan meledakkan bom bunuh diri, yang dipandangnya sebagai perjuangan suci. Suatu keberanian yang sulit bisa dipahami dengan nalar.
Mengapa generasi muda, yang seharusnya memandang jauh masa depannya, begitu mudah menerima ideologi yang berbahaya tersebut? Tentu ada banyak faktor, ada faktor psikologis, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Namun kita diingatkan bahwa generasi muda punya kekuatan yang luar biasa bila diberdayakan. Kekuatan yang sanggup membangun atau merusak.
Contohnya adalah Saulus, seorang muda yang bertumbuh dalam lingkungan iman Yahudi yang ketat. Pendidikan dan komunitasnya turut membentuk Saulus menjadi pribadi yang militan dalam agamanya. Hal itu nampak ketika ia turut menyaksikan dan memberi persetujuan saat Stefanus dirajam dengan batu sampai mati (Kis 7:58; 8:1). Ia disunat pada hari ke delapan, bukan setelah ia dewasa. Artinya sejak lahir ia sudah menjadi pemeluk iman Yahudi dengan segala hak dan kewajibannya untuk menjalankan semua tradisi Yahudi. Ia seorang Israel tulen dari suku Benyamin. Benyamin adalah satu-satunya anak Yakub yang lahir di tanah Perjanjian Kanaan. Artinya Paulus termasuk kalangan aristokrat (bangsawan) Israel. Bukan hanya itu, Ia adalah orang Ibrani asli dan bisa berbahasa Ibrani, kebanggaan Israel.
Dalam hal penghayatan agamanya, Saulus telah dididik menjadi orang Farisi, yang bertugas secara khusus memelihara hukum Taurat dan menjaga pemberlakuan hukum itu di tengah masyarakat Yahudi. Bahkan, demi kelestarian Taurat, ia telah menganiaya jemaat Kristus, yang dianggapnya telah mengacak-acak Taurat dan menodai agamanya.
Namun, segalanya berubah sejak ia berjumpa dengan Kristus. Apa yang dahulu dianggap keuntungan baginya, sekarang menjadi rugi. Bahkan, menurutnya, tidak ada satu pun yang lebih berharga daripada pengenalan akan Kristus, Tuhannya. Perubahan yang amat mendasar itu membuat namanya berganti menjadi Paulus. Ia telah mengalami transformasi iman. Luar biasa! Apa yang menyebabkan perubahan itu?
Bukan hasil dari studi banding atau penelitiannya. Bukan juga buah dari ketaatannya terhadap hukum Taurat, melainkan kebenaran karena iman di dalam Kristus Yesus, yang diperoleh karena anugerah (Filipi 3:9). Jadi, anugerah yang diterimanya itu telah mengubah tujuan hidupnya. Tujuan hidup ini bisa terbaca melalui apa yang dianggapnya paling berharga dalam kehidupannya. Demi yang paling berharga itu, ia rela mengorbankan segala sesuatu. Kalau dulu tujuan hidupnya adalah hidup untuk agama, sekarang, sejak ia menjadi murid Kristus, pelayan Kristus, tujuan hidupnya bisa terbaca dalam Filipi 1:21 “Karena bagiku, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”.
Rupanya selama ini Paulus telah membangun konsep diri yang salah. Segala kelebihan yang dia miliki menjadi kebanggaannya. Tanpa disadari, ia telah membangun harga dirinya dengan hal-hal yang lahiriah, sehingga tujuan hidupnya terarah pada dirinya sendiri, sekalipun kelihatannya ia sedang berjuang demi membela Tuhannya.
Akan tetapi, sejak ia mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, ambisinya berubah total. Apa yang selama ini dibanggakannya, sekarang dipandangnya sebagai sampah yang mengotori kehidupannya.
Kuasa apakah yang mengubah Saulus menjadi Paulus? Ia berkata dalam Filipi 3:10-11, "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati."
Kuasa kebangkitan Kristus telah mengubahkan murid-murid Yesus, mengubah kehidupan jemaat perdana, dan mengubah kehidupan Paulus. Semakin kita mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya, semakin kita diubahkan menjadi serupa dengan Kristus.
Zaman Paulus tentu berbeda jauh dengan zaman kita sekarang ini. Apa yang dibanggakan Paulus pada masa mudanya (asal usul lahiriah) barangkali sudah menjadi tidak menarik dan relevan di era globalisasi. Orang-orang muda zaman sekarang punya kebanggaan lain karena mereka hidup di tengah kemajuan teknologi informasi. Segala informasi (yang baik atau buruk) bisa dengan mudah didapatkan mereka yang mempunyai akses dunia informasi yang canggih. Kemudahan-kemudahan ini akan menjadikan generasi muda sebagai kekuatan besar, sekaligus kelemahan yang menghancurkan. Bila tidak waspada dan mawas diri, apa yang dipandang sebagai “kelebihan” akan menawan mereka untuk melayani roh-roh zaman yang mempertuhankan diri sendiri.
Kita tidak mungkin membendung arus informasi tanpa batas yang melanda generasi muda. Namun, kita dipanggil untuk menjadi alat pekerjaan Roh dalam menanamkan filter iman kepada mereka, sehingga orang-orang muda akan mampu memilah sendiri apa yang baik dan benar bagi kehidupannya. Ini pekerjaan besar. Tetapi kita tidak sendiri, kuasa kebangkitan Kristus akan memampukan kita yang mau dan rela membayar harga untuk melayani.






